Padang – Serangkaian bencana alam yang dipicu oleh cuaca ekstrem di Sumatera Barat pada penghujung November 2025 telah menimbulkan dampak signifikan, termasuk kerugian material dan jatuhnya korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bersama tim terkait terus mengintensifkan upaya penanganan dan pendataan dampak bencana secara komprehensif, dengan fokus utama pada pemenuhan kebutuhan mendesak para korban.
Sebagai bentuk respons cepat terhadap situasi darurat ini, Wakil Gubernur Sumbar menegaskan bahwa bantuan dari Presiden akan segera disalurkan kepada masyarakat yang terdampak. Prioritas utama adalah memastikan kelancaran distribusi bantuan dan mencegah terjadinya penumpukan di lapangan, sehingga bantuan dapat segera diterima oleh mereka yang membutuhkan.
Sebelumnya, Gubernur Sumbar, Mahyeldi, telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Imbauan ini dikeluarkan mengingat intensitas hujan yang tinggi dan kondisi geografis wilayah yang rentan terhadap bencana.
Banjir bandang yang melanda wilayah Agam dilaporkan telah menyebabkan 28 korban ditemukan, sementara enam jorong masih terisolasi akibat akses yang terputus. Tim SAR gabungan terus berupaya melakukan pencarian dan evakuasi korban yang masih hilang, dengan harapan dapat menemukan mereka dalam kondisi selamat.
Di Kota Padang, banjir telah mengepung sejumlah wilayah dan longsor terjadi di beberapa titik, menyebabkan gangguan terhadap pelayanan air bersih akibat intake yang tertimbun lumpur. Pemerintah Kota Padang telah mengerahkan seluruh sarana dan prasarana yang dimiliki untuk memperkuat layanan darurat bencana dan membantu warga yang terdampak, termasuk penyediaan air bersih dan tempat pengungsian sementara.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumbar telah berhasil mengidentifikasi 20 korban banjir bandang. Proses identifikasi terus dilakukan secara cermat dan teliti untuk memastikan seluruh korban dapat teridentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga. Seorang petugas DVI Polda Sumbar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, proses pencarian masih terus dilakukan. “Saat ini, kami masih mencari 10 warga yang dilaporkan hilang,” ujarnya.
Selain itu, seorang mahasiswa Universitas Syedza Saintika asal Air Haji Pessel dilaporkan menjadi salah satu korban banjir bandang di Jembatan Kembar Silaing Bawah. Pihak universitas dan keluarga korban telah berkoordinasi untuk proses pemakaman dan pemberian santunan, sebagai bentuk dukungan dan kepedulian terhadap keluarga yang ditinggalkan.
Gubernur Sumbar juga menyoroti pentingnya pembenahan data lapangan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Gubernur Mahyeldi saat memberikan arahan kepada BPBD mengatakan, data yang akurat sangat penting dalam penanganan bencana. “Data yang akurat dan terperinci sangat penting untuk memastikan bantuan dan penanganan bencana dapat dilakukan secara efektif dan efisien,” katanya.
Di tengah upaya penanganan bencana, RSUP M Djamil meluncurkan pusat pelatihan endo-laparoskopi berstandar Asia. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kemampuan tenaga medis dalam menangani kasus-kasus bedah minimal invasif, sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.







