Padang – Proyeksi perlambatan pertumbuhan kredit perbankan di Sumatera Barat menjadi perhatian serius, terutama karena kondisi stabilitas ekonomi makro yang dinilai belum sepenuhnya mendukung. Situasi ini diperkirakan akan berdampak luas pada berbagai sektor vital, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), penyaluran kredit modal kerja, investasi, serta tingkat konsumsi masyarakat.
Mantan Direktur Utama Bank Nagari, Suryadi Asmi, yang telah menjabat selama dua periode, menyoroti fenomena stagnasi dalam pertumbuhan kredit perbankan. Menurutnya, stabilitas ekonomi yang solid merupakan fondasi utama untuk memacu pertumbuhan kredit. Suryadi Asmi, tokoh masyarakat Sumatera Barat dengan pengalaman mendalam di bidang perbankan, menyampaikan pandangannya pada hari Jumat (5/9/2025), “Sebaliknya pertumbuhan kredit perbankan akan meningkat bila stabilitas ekonomi kondusif.”
Suryadi Asmi mengidentifikasi bahwa perlambatan ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan kualitas kredit bermasalah, yang secara signifikan mempengaruhi berbagai sektor ekonomi. Ia menekankan bahwa pertumbuhan kredit perbankan sangat bergantung pada dinamika permintaan dan prospek ekonomi, baik di tingkat nasional maupun global. Faktor-faktor seperti tarif impor dan ekspor, serta kebijakan proteksi, juga memainkan peran penting dalam menentukan arah pertumbuhan kredit.
Stabilitas moneter, menurut Suryadi Asmi, adalah kunci untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Selain itu, kebijakan suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), tingkat likuiditas perbankan yang tercermin dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Loan to Deposit Ratio (LDR), serta intensitas persaingan antar bank, semuanya berkontribusi pada dinamika penyaluran kredit.
Lebih lanjut, Suryadi Asmi menyoroti dampak ketidakpastian ekonomi domestik terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah. Ia menjelaskan, “Ketidakpastian akibat ekonomi dalam negeri saat ini mengakibatkan ekonomi makro menjadi lesu dan daya beli masyarakat yang makin menurun terutama kelas menengah yang menyusut dan tingkat kehati-hatian bank dalam memberikan kredit.” Kondisi ini mendorong lembaga perbankan untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit, yang pada akhirnya memperlambat laju pertumbuhan kredit secara keseluruhan.







