www.domainesia.com
News

Atlet Pariaman Terancam Hengkang, Siap Perkuat Daerah Lain Jika Tak Ikut Porprov 2026

85
×

Atlet Pariaman Terancam Hengkang, Siap Perkuat Daerah Lain Jika Tak Ikut Porprov 2026

Sebarkan artikel ini
atlet-pariaman-terancam-hengkang,-siap-perkuat-daerah-lain-jika-tak-ikut-porprov-2026
Atlet Pariaman Terancam Hengkang, Siap Perkuat Daerah Lain Jika Tak Ikut Porprov 2026

Pariaman – Pemerintah Kota Pariaman dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Pariaman menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan atlet-atlet berprestasi mereka menjelang perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat yang dijadwalkan berlangsung pada Juni–Juli 2026. Ancaman eksodus atlet ini muncul akibat ketidakjelasan partisipasi Kota Pariaman dalam ajang olahraga tersebut, yang mendorong para atlet peraih medali untuk mempertimbangkan opsi membela daerah lain demi menjaga keberlangsungan karier kompetitif mereka.

Kondisi dilematis ini dipicu oleh kebijakan yang diterapkan oleh KONI Sumbar, selaku pihak penyelenggara Porprov. Kebijakan tersebut memberikan peluang bagi atlet yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Sumatera Barat untuk mewakili daerah lain apabila daerah asal mereka memutuskan untuk tidak berpartisipasi. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk melindungi hak-hak atlet agar tidak kehilangan kesempatan untuk berprestasi akibat keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah masing-masing.

Ketua Umum KONI Sumbar, Hamdanus, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan wujud kepedulian terhadap nasib para atlet. “Selagi ber-KTP Sumatera Barat, silakan turun di Porprov. Jika daerahnya tidak ikut, boleh membela daerah lain. Kasihan atlet kehilangan kesempatan gara-gara pemerintahan daerah dan KONI-nya tidak respons,” ungkapnya saat acara pembukaan Tes Kemampuan Calon Atlet Binaan Pelatda Sumbar 2026 di Padang, Rabu (14/1/2026).

Salah satu atlet yang merasakan dampak langsung dari situasi ini adalah Zikrha Dwi Putri, seorang atlet teqball andalan Sumatera Barat yang berasal dari Kota Pariaman. Peraih medali perak SEA Games 2025 ini menyampaikan kekecewaannya apabila Porprov tidak dapat diselenggarakan atau jika daerah asalnya memilih untuk absen. Zikrha berpendapat bahwa Porprov bukan sekadar ajang kompetisi antar daerah, melainkan juga merupakan wadah penting untuk menjaga performa, meningkatkan kemampuan, serta menunjukkan hasil pembinaan atlet kepada masyarakat dan para pembina olahraga.

Ancaman perpindahan atlet juga menghantui cabang olahraga sepatu roda. Sejumlah atlet sepatu roda asal Kota Pariaman dikabarkan siap untuk membela daerah lain jika Pariaman tidak turut serta dalam Porprov. Beberapa nama atlet yang berpotensi pindah daerah antara lain Salsabila Ghina Fitri, peraih medali emas BK PON Aceh–Sumut, serta Hana Fatihatul Aulia, Dafa Muhammad Alfauzen, dan Dimmy Nobel Alhamdi, yang masing-masing meraih medali perak dan perunggu pada ajang yang sama.

Ketua Harian Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Sumbar, Arfan Rosyda, mengonfirmasi bahwa isu ini telah menjadi perbincangan hangat di kalangan atlet, orang tua, dan pengurus Perserosi. Arfan juga menambahkan bahwa potensi perpindahan atlet tidak hanya mengancam Kota Pariaman, tetapi juga daerah-daerah lain di Sumatera Barat yang belum memberikan kepastian partisipasi mereka dalam Porprov XVI. “Bukan hanya atlet sepatu roda dari Pariaman. Atlet sepatu roda dari daerah lain juga menyampaikan hal serupa. Jika daerahnya tidak ikut Porprov, mereka akan memilih membela daerah lain. Ini murni demi karier atlet, bukan soal loyalitas,” tegas Arfan, Sabtu (17/1/2026).

Arfan Rosyda menekankan betapa pentingnya Porprov sebagai ajang bagi atlet daerah untuk mengukur kemampuan, menjaga kesinambungan prestasi, dan sebagai jembatan menuju kompetisi tingkat nasional. Ketidakpastian partisipasi daerah akan sangat merugikan para atlet yang telah berlatih dan mempersiapkan diri.

Situasi ini dianggap sebagai konsekuensi dari absennya Porprov Sumatera Barat selama delapan tahun terakhir. Kekosongan Porprov dalam jangka waktu yang panjang telah memutus mata rantai pembinaan, mempersempit ruang kompetisi berjenjang, dan mengganggu proses regenerasi atlet. Tanpa adanya Porprov, banyak atlet kehilangan momentum dan jalur evaluasi prestasi yang terstruktur.

Hingga saat ini, Pemerintah Kota maupun KONI Kota Pariaman belum memberikan pernyataan resmi mengenai kepastian partisipasi mereka dalam Porprov XVI Sumatera Barat 2026. Ketidakpastian ini semakin memperburuk situasi dan meningkatkan kekhawatiran para atlet akan masa depan karier mereka.