Bukittinggi – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menggerakkan ninik mamak dan bundo kanduang untuk ikut memperkuat ketahanan keluarga melalui bimbingan teknis di Grand Rocky Hotel Bukittinggi pada 29-30 April 2026. Kegiatan ini ditujukan agar tokoh adat lebih aktif mendampingi keluarga dan calon pengantin di tengah meningkatnya persoalan rumah tangga.
Program tersebut digelar sebagai respons atas sejumlah tantangan keluarga yang semakin kompleks, seperti perceraian, pernikahan usia dini, dan masih rendahnya kesiapan pasangan dalam membangun rumah tangga yang berkualitas.
Kepala Dinas P3AP2KB Sumbar, Herlin Sridiani, mengatakan keluarga memegang peran utama dalam menentukan kualitas generasi mendatang. Ia menegaskan, keluarga yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.
“Keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi berkualitas. Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang mampu bersaing dan berkarakter,” ujarnya.
Herlin menjelaskan, penguatan peran ninik mamak dan bundo kanduang menjadi penting untuk menjawab dinamika kehidupan modern. Menurut dia, keduanya bukan sekadar simbol adat, tetapi juga pembimbing, pendidik, dan penjaga nilai di tengah masyarakat.
“Peran ninik mamak dan bundo kanduang sangat strategis. Mereka menjadi rujukan dalam kehidupan masyarakat, sekaligus agen perubahan dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga dan calon pengantin,” tambahnya.
Melalui bimbingan teknis itu, peserta menerima materi tentang ketahanan keluarga, pendampingan calon pengantin, pencegahan pernikahan usia anak, hingga penguatan komunikasi dalam rumah tangga. Materi lain yang disampaikan mencakup kesehatan reproduksi, pencegahan stunting, serta mediasi konflik keluarga.
Sebanyak 80 peserta dari unsur ninik mamak dan bundo kanduang asal Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diharapkan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Herlin juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga adat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun keluarga yang berkualitas. Ia menilai kolaborasi menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat secara berkelanjutan.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi antara pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun keluarga yang kuat dan berkualitas,” tegasnya.
Bimbingan teknis itu menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan praktisi. Pada hari pertama, Rabu (29/4/2026), Rafdinal membuka materi dengan paparan mengenai arah kebijakan pemerintah daerah dalam membentuk keluarga sejahtera.
Setelah itu, Salman menyampaikan aspek hukum Islam terkait perkawinan, perwalian, dan waris. Sementara itu, Aladin menyoroti pentingnya kesehatan reproduksi bagi calon pengantin demi mewujudkan generasi yang sehat dan berkualitas.
Pada hari kedua, Kamis (30/4/2026), Herlin Sridiani memaparkan penerapan delapan fungsi keluarga dalam mempersiapkan calon pengantin di Sumatera Barat. Materi tersebut kemudian diperkaya oleh Budiman Dt. Malano yang kembali menekankan peran strategis ninik mamak dalam membimbing generasi muda menuju kehidupan rumah tangga yang matang.
Adapun Zera Mendoza menutup rangkaian materi dengan penguatan dari sisi psikologis. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental calon pengantin dalam menghadapi dinamika kehidupan berumah tangga sebagai langkah mencegah konflik hingga perceraian.







