Padang – Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si, Dt. Sati, menyebut umat Islam di China kini berjumlah sekitar 25,9 juta jiwa. Namun, jumlah itu masih kurang dari 2 persen dari total populasi di negara tersebut.
Fauzi menyampaikan hal itu saat mengunjungi salah satu universitas Islam di China, Kamis (14/5/2026). Dalam rangkaian kunjungan resminya ke sejumlah kota besar di China, ia melihat pemerintah setempat memberi perhatian besar kepada generasi muda agar bisa menempuh pendidikan di berbagai bidang, termasuk Islam, demi masa depan yang lebih baik.
“Menurut Islam, semua orang haruslah terus menuntut ilmu, dan seperti kita ketahui pepatah yang sangat populer adalah Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” ujar Fauzi Bahar.
Ia menuturkan, sebagian besar Muslim di China berasal dari etnis minoritas. Dua kelompok terbesar di antaranya adalah suku Hui dan Uighur, dengan konsentrasi penduduk Muslim terpadat berada di wilayah barat laut seperti Xinjiang dan Ningxia.
Fauzi juga mengatakan, masjid mudah ditemukan di sejumlah kota besar, termasuk Shanghai dan Chengdu. Di sisi lain, ketersediaan makanan halal juga dinilai cukup terjamin karena hampir semua kampus menyediakan kantin Muslim.
Dalam kesempatan yang sama, Fauzi bersama rombongan turut berkunjung ke Danau Kanas di Prefektur Altay, Xinjiang. Danau yang berada di ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut itu dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di China karena dikelilingi pegunungan bersalju dan hutan, sehingga dijuluki “Swissnya Asia”.
Danau Kanas terletak di utara Xinjiang, tidak jauh dari perbatasan Mongolia, Kazakhstan, dan Rusia. Fauzi menggambarkan kawasan tersebut memiliki nuansa kebudayaan yang mirip Turki, termasuk saat santap malam yang terasa kental dengan suasana keislaman.
“Kami dan rombongan ke Danau Kanas dengan salju yang masih terbentang di atas ketinggian danau 3.700 meter di atas permukaan air laut, dan peradabannya seperti Turki dengan suasana makan malam yang nuansa keislaman,” ujarnya.







