Padang – Pemerintah Kota Padang merespons peningkatan frekuensi banjir dan genangan di wilayahnya dengan menyusun ulang Masterplan Drainase sebagai langkah strategis. Peninjauan ini didorong oleh perubahan signifikan dalam tata ruang kota yang memerlukan sistem drainase yang lebih efektif dan adaptif.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, menjelaskan bahwa masterplan drainase yang telah digunakan selama 15 tahun terakhir sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan kota saat ini. Tri Hadiyanto menyampaikan, urgensi evaluasi dan pembaruan masterplan. “Masterplan yang lama sudah tidak relevan dan perlu dievaluasi,” ujarnya saat membuka rapat penyusunan masterplan pada Kamis (28/8/2025).
Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi kebutuhan masterplan baru adalah perluasan pembangunan kota yang melampaui jalur Bypass. Selain itu, perubahan fungsi jaringan di lapangan juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak jaringan irigasi yang kini beralih fungsi menjadi drainase, padahal keduanya memiliki perbedaan teknis yang signifikan dalam pengelolaannya. Tri Hadiyanto menjelaskan, perbedaan fungsi antara irigasi dan drainase menjadi penyebab utama terjadinya genangan. “Secara teknis, irigasi berfungsi mengalirkan air, sementara drainase mengeringkan. Ini menjadi salah satu penyebab utama genangan,” jelas Tri Hadiyanto.
Masterplan yang baru akan difokuskan pada adaptasi terhadap kondisi eksisting, dengan rencana DPUPR untuk mengubah fungsi jaringan irigasi menjadi saluran drainase yang sesuai dengan kebutuhan saat ini. Proses penyusunan masterplan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari instansi pusat, provinsi, kota, hingga para camat se-Kota Padang, untuk memastikan bahwa semua aspek dan kebutuhan wilayah dapat terakomodasi dalam perencanaan. Dengan melibatkan berbagai pihak, Pemko Padang berharap masterplan yang dihasilkan akan komprehensif dan dapat diimplementasikan secara efektif.
Kepala Bidang Program dan Jasa Konstruksi Dinas PUPR Kota Padang, Novianti, menekankan pentingnya kolaborasi dan masukan dari seluruh peserta rapat dalam penyusunan masterplan ini. Novianti mengatakan, pentingnya partisipasi aktif dari seluruh pihak terkait. “Secara geografis, Kota Padang memang rawan banjir dan pasang surut. Namun, kami berkomitmen untuk meminimalisir risiko tersebut,” kata Novianti.
Penyusunan masterplan akan tetap mengacu pada kondisi jaringan drainase yang ada, namun dengan penambahan saluran baru, pelebaran, pengerukan sedimen, serta penerapan teknologi modern untuk meningkatkan efektivitas sistem drainase. Langkah ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang dalam mengatasi masalah banjir dan genangan di Kota Padang, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.







