Tanahdatar – Jalur penghubung Ruas Setangkai-Tanjung Ampalu di batas Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Sijunjung kembali bisa dilalui setelah terputus selama sekitar satu setengah bulan akibat banjir bandang pada 21 Mei 2026. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang membangun jembatan Bailey sejak 9 Juli 2026 untuk memulihkan akses warga.
Kembalinya akses ini menandai berakhirnya masa isolasi yang sempat memukul aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat di dua daerah tersebut. Selama jembatan itu putus, warga harus menempuh jalan memutar sejauh 19 hingga 20 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar satu jam melalui rute Kumani-Tanjung Bonai Aua-Koto Panjang-Tigo Jangko-Pangian Lintau.
Pelajar dan mahasiswa asal Sijunjung yang bersekolah di Tanahdatar menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka harus membayar ongkos lebih besar dan menempuh perjalanan jauh, padahal sebelumnya jarak tersebut bisa dilalui hanya dalam hitungan menit.
Petani, pedagang, pelaku UMKM, dan pelaku usaha lain juga ikut terdampak. Distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok sempat tersendat, membuat roda ekonomi warga praktis berhenti.
Kini, lalu lintas kembali ramai melintasi jembatan Bailey itu. Bus penumpang, truk ekspedisi, kendaraan pengangkut kebutuhan UMKM, truk karet, mobil pikap, hingga sepeda motor bergantian melintas, sementara sejumlah pelajar juga kembali melewati jalur tersebut saat pulang sekolah.
Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, mengatakan pembangunan jembatan Bailey memakai anggaran Transfer ke Daerah (TKD) sebagai langkah cepat penanganan bencana. Ia menyebut total biaya pembangunan dan pemasangan mencapai Rp4,9 miliar.
“Pembangunan ini merupakan tindak lanjut dari atensi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, di bawah komando Gubernur Mahyeldi Ansharullah dan Wagub Sumbar Vasko Ruseimy, dalam mempercepat pemanfaatan dana TKD untuk penanganan bencana di Sumatera Barat,” ujarnya, Selasa (28/7).
Ia menjelaskan, pekerjaan yang paling lama justru ada pada pembangunan tapak atau abutmen jembatan. Pembuatan pondasi itu menelan anggaran sekitar Rp800 juta dan dikerjakan secara swakelola, sedangkan konstruksi jembatan Bailey memerlukan sekitar Rp4 miliar.
“Perakitan jembatan kami mulai 6 Juli, kemudian tiga hari setelahnya atau 9 Juli sudah bisa dilalui masyarakat. Yang paling lama pengerjaannya adalah pembuatan tapak jembatan,” katanya.
Mitra menegaskan, jembatan Bailey dibangun untuk memulihkan akses transportasi secepat mungkin sambil menunggu jembatan permanen. Menurut dia, pembangunan jembatan permanen diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp25 miliar.
“Meski bersifat sementara, jembatan Bailey ini memiliki ketahanan yang cukup lama, bahkan bisa digunakan bertahun-tahun dengan kemampuan menahan beban kendaraan hingga 25 sampai 30 ton,” jelasnya.
Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengatakan putusnya jembatan membuat warga benar-benar terisolasi selama satu setengah bulan. Seluruh aktivitas harus dialihkan lewat jalur memutar yang juga merupakan ruas jalan kewenangan Pemerintah Provinsi.
Ia menuturkan, mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor perkebunan, terutama komoditas karet. Selain itu, peternak ayam petelur juga kesulitan menyalurkan hasil panen ke daerah tujuan selama akses terputus.
“Selama akses terputus, perekonomian masyarakat lumpuh total. Banyak pelaku UMKM memilih menutup usahanya karena tidak ada aktivitas ekonomi. Sekarang setelah jembatan Bailey dibangun, masyarakat mulai kembali membuka usahanya. Dengan begini ekonomi masyarakat kembali bergerak,” ujar Pendi.
Pendi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat atas respons cepat terhadap keluhan warga. “Kita ucapkan terimakasih pada Gubernur dan Wakil Gubernur karena sudah bergerak cepat atasi kondisi ini,” katanya.
Rasa syukur juga disampaikan warga sekitar, Rela Islamiah, 26 tahun. Pemilik warung itu mengatakan kini bisa kembali berjualan setelah akses jalan kembali normal.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami. Kami sangat berterima kasih karena jembatan ini membuat masyarakat kembali bisa beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Hal serupa dirasakan Hajah Id (60), pemilik rumah makan Elok Basamo di Lintau Buo. Ia mengatakan usahanya yang sempat sepi kini kembali buka seiring beroperasinya jembatan tersebut.
“Kami juga sudah buka kembali sejak jembatan kembali beroperasi. Biasanya sopir-sopir truk yang biasa makan di sini,” pungkasnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Sumbar yang dinilainya cepat membuka kembali akses penghubung itu.







