www.domainesia.com
News

Banjir dan Longsor Landa Sumbar: Sembilan Tewas, Ribuan Mengungsi, Kerugian Miliaran

12
×

Banjir dan Longsor Landa Sumbar: Sembilan Tewas, Ribuan Mengungsi, Kerugian Miliaran

Sebarkan artikel ini
dampak-cuaca-ekstrem-di-sumbar,-9-meninggal-dan-ribuan-warga-terdampak
Dampak Cuaca Ekstrem di Sumbar, 9 Meninggal dan Ribuan Warga Terdampak

Padang – Dampak cuaca ekstrem berupa banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di Sumatera Barat (Sumbar) telah memicu respons intensif dari pemerintah provinsi. Data terkini menunjukkan bahwa 13 kabupaten dan kota di wilayah tersebut mengalami dampak signifikan akibat bencana alam ini.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melaporkan bahwa hingga pukul 18.16 WIB, sembilan orang dinyatakan meninggal dunia, dua orang masih dalam pencarian, dan empat orang mengalami luka-luka. Kerugian materiel yang tercatat sementara mencapai Rp6.533.800.000.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar terus berupaya mengoptimalkan penanganan di seluruh wilayah yang terdampak. Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahab, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem telah menyebabkan gangguan serius di berbagai daerah. “BPBD terus memaksimalkan penanganan di seluruh daerah terdampak. Kami meminta masyarakat tetap waspada,” ujar Ilham Wahab.

Kota Padang menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak, dengan tujuh kecamatan dan 17 kelurahan mengalami dampak langsung. Di wilayah ini, tercatat 14 titik pohon tumbang, satu titik banjir, dan dua titik longsor yang mengganggu akses jalan dan merendam rumah warga. Selain itu, satu titik tanah amblas juga dilaporkan, menambah daftar kerusakan yang harus segera ditangani.

Di Kabupaten Padang Pariaman, banjir dan longsor melanda wilayah Lubuk Sikarah dan Tanjung Harapan, menyebabkan enam kepala keluarga (KK) atau 18 jiwa terdampak. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus untuk memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi.

Kabupaten Lima Puluh Kota mencatat kerusakan terluas dibandingkan wilayah lain. Sebanyak 17 kecamatan dan 42 nagari terdampak, dengan total 3.480 KK atau 10.446 jiwa mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 16 rumah rusak, 3.440 rumah terendam, 341 hektare sawah terendam, serta 106 hektare ladang ikut terdampak. Infrastruktur juga mengalami kerusakan, dengan empat jembatan rusak, lima fasilitas pendidikan rusak, dan delapan irigasi jebol.

Kota Pariaman juga tidak luput dari dampak banjir, yang merusak sejumlah rumah di Lukah, Kampai Tabu Karambia, dan Koto Panjang. Kecamatan Pariaman Tengah, Pariaman Timur, dan Pariaman Selatan turut terdampak. Selain itu, satu fasilitas pendidikan dan satu fasilitas ibadah mengalami kerusakan, menunjukkan dampak luas terhadap kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat setempat.

Kabupaten Agam mencatat 157 KK atau 654 jiwa terdampak, yang tersebar di delapan kecamatan dan 13 nagari. Kerusakan meliputi 62 rumah terendam, 229 meter jalan rusak, lima hektare sawah tertimbun, serta terputusnya akses air bersih Pansimas. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, dan dua fasilitas pendidikan mengalami kerusakan.

Kota Bukittinggi mencatat dua kecamatan terdampak, yaitu Guguk Panjang dan Mandiangin Koto Selayan, dengan 11 KK atau 68 jiwa terancam. Pemerintah kota terus memantau situasi untuk mencegah dampak yang lebih buruk.

Di Kabupaten Pasaman Barat, satu orang meninggal dunia dan 724 KK atau 1.316 jiwa terdampak. Sebanyak 541 rumah terendam dan 0,5 hektare kebun rusak. Kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp363 juta. Sebanyak 22 KK atau 70 jiwa mengungsi, dan total 122 hektare lahan terdampak.

Kabupaten Pesisir Selatan mencatat banjir yang merendam 4.935 rumah, dengan 4.780 KK atau 23.900 jiwa terdampak. Kerugian sementara diperkirakan mencapai Rp357,58 miliar, menunjukkan skala besar kerusakan yang terjadi.

Kabupaten Solok melaporkan longsor dan banjir di Kecamatan Gunung Talang, menyebabkan 14 jiwa mengungsi dan 55 rumah terendam. Upaya evakuasi dan penyediaan tempat tinggal sementara menjadi prioritas utama.

Kota Solok mencatat enam KK atau 18 jiwa terdampak di Kecamatan Lubuk Sikarah dan Tanjung Harapan, dengan sejumlah rumah rusak di Lukah dan Koto Panjang. Bantuan darurat segera disalurkan untuk meringankan beban para korban.

Di Kota Padang Panjang, tanah longsor menyebabkan material menutup saluran irigasi, mengganggu pasokan air untuk pertanian. Kondisi ini mengancam keberlangsungan pertanian dan memerlukan solusi cepat untuk memulihkan fungsi irigasi.

Kabupaten Tanah Datar mencatat tiga kecamatan terdampak, dengan 18 KK atau 56 jiwa terdampak. Kerusakan meliputi dua rumah rusak, satu jembatan putus, dan empat irigasi rusak. Perbaikan infrastruktur menjadi fokus utama untuk memulihkan aksesibilitas dan pasokan air.

Di Kabupaten Pasaman, cuaca ekstrem berdampak pada lima kecamatan dan tujuh nagari, dengan tiga rumah mengalami kerusakan. Pemerintah daerah terus berupaya memberikan bantuan dan dukungan kepada masyarakat yang terdampak.

Ilham Wahab menegaskan bahwa seluruh daerah masih melakukan pendataan lanjutan untuk mengetahui dampak yang lebih rinci. “Kami terus melakukan assessment dan penanganan darurat di seluruh wilayah,” tutupnya.