Padang – Dampak cuaca ekstrem berupa hujan deras yang berkepanjangan telah memicu serangkaian bencana alam di berbagai wilayah Sumatera Barat, menyebabkan banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk meningkatkan upaya penanganan darurat dan melakukan pendataan kerusakan secara komprehensif.
Di Kabupaten Pesisir Selatan, banjir pertama kali dilaporkan di Nagari Duku Utara, Kecamatan Koto XI Tarusan, pada Minggu (23/11/2025). Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi sekaligus Juru Bicara BPBD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Ilham Wahab, menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi menjadi faktor utama penyebab banjir yang merendam 418 rumah warga. “Petugas bergerak cepat mengevakuasi warga yang terjebak banjir,” kata Ilham. Meskipun tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan rumah yang signifikan, BPBD setempat terus melakukan pemantauan intensif terhadap situasi terkini guna mengantisipasi potensi terjadinya banjir susulan.
Kabupaten Solok juga mengalami dampak serius akibat tanah longsor yang terjadi di ruas Jalan Nasional Lubuk Selasih-Alahan Panjang pada Sabtu malam (22/11/2025). Material longsor menutupi badan jalan, menyebabkan kemacetan dari kedua arah. “Longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur sejak sore,” ujar Ilham Wahab. BPBD berkoordinasi dengan BPJN Sumbar untuk membuka kembali akses jalan yang tertutup. Selain itu, longsor juga terjadi di Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, pada Selasa pagi (25/11/2025), yang masih menutup jalan kabupaten. Banjir juga melanda Kubung pada waktu yang sama, merendam rumah warga di Jorong Batu Palano dan Kajai, memaksa evakuasi enam warga dari Batu Palano dan delapan warga dari Jorong Kajai. “Evakuasi dilakukan untuk memastikan keselamatan warga yang terjebak banjir,” katanya.
Bencana serupa juga melanda Muaro Busuk dan Kapondoh, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, di mana 50 rumah terdampak dan sekitar 100 jiwa terisolasi akibat runtuhnya jembatan. Kota Padang Panjang tidak luput dari dampak cuaca ekstrem, dengan tanah longsor menutup saluran irigasi di Silaiang Bawah pada Sabtu sore (22/11/2025), diikuti oleh angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang dan merusak satu rumah serta menutup akses jalan.
Kabupaten Pasaman juga melaporkan kejadian pohon tumbang yang menimpa beberapa rumah warga pada Senin malam (24/11/2025), sementara di Pasaman Barat, angin kencang menyebabkan pohon tumbang di Nagari Aua Kuniang pada Senin sore (24/11/2025), dan longsor mengancam akses warga di Kecamatan Talamau. Kota Pariaman mengalami perluasan banjir ke titik permukiman lain pada 23 dan 24 November 2025, menggenangi beberapa rumah warga dan mengganggu aktivitas sekolah. Angin kencang juga melanda Kecamatan Pariaman Timur, Pariaman Selatan, dan Pariaman Tengah, menyebabkan pohon tumbang yang menghambat lalu lintas dan merusak infrastruktur.
Tanah Datar juga mengalami banjir, banjir bandang, longsor, dan angin kencang. Banjir pertama terjadi pada 23 November 2025 di Kecamatan Batipuh Selatan dan Kecamatan X Koto, merusak satu rumah warga di Nagari Padang Laweh dan memutus jembatan di Jorong Sungai Rayo, memaksa 18 KK atau 26 jiwa mengungsi. Banjir bandang kembali menghantam Nagari Malalo di Batipuh Selatan pada 24 November 2025, berdampak pada 18 KK atau 56 jiwa, merusak rumah, jembatan, saluran irigasi, dan sanitasi air bersih. Angin kencang dan longsor juga terjadi di beberapa nagari, menyebabkan kerusakan rumah dan mengancam permukiman warga. BPBD Sumbar mencatat total warga terdampak mencapai 59 jiwa atau 27 KK di Batipuh Selatan, ditambah 18 KK atau 26 jiwa di X Koto yang mengungsi secara mandiri.
Kabupaten Agam juga mengalami serangkaian bencana, termasuk banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan jalan amblas. Banjir terjadi berulang sejak Sabtu (22/11/2025) dan merendam permukiman di beberapa kecamatan, mengganggu aktivitas warga dan merendam sedikitnya 30 rumah. Kerusakan infrastruktur jalan juga dilaporkan, dengan badan jalan amblas di Kecamatan Palupuah dan jembatan putus di Nagari Salareh Aia Timur. Banjir bandang di Kecamatan Tanjung Raya merusak berbagai fasilitas dan menutup jalan lingkar nagari. Tanah longsor melanda empat kecamatan, menutup akses jalan provinsi dan kabupaten. Angin kencang merusak rumah warga dan menutup sejumlah jalan. Jalan provinsi di Kecamatan IV Koto juga amblas, menyebabkan akses terputus total.
Kota Solok juga melaporkan banjir di Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan, merusak rumah warga dan berdampak pada enam kepala keluarga dengan total 18 jiwa.
Dampak terparah terjadi di Kabupaten Padang Pariaman, di mana banjir, longsor, dan angin kencang menyebabkan ribuan warga terdampak di 17 kecamatan dan 56 nagari. Sebanyak 3.326 rumah terendam, dan total warga terdampak mencapai 10.042 jiwa. Banjir juga merusak 15 rumah dan menyebabkan 13 rumah hanyut ke aliran sungai. Longsor melanda 16 titik, menimbun badan jalan, merusak talud, dan memutus akses transportasi. Lahan pertanian seluas 138 hektare sawah dan 26 hektare ladang ikut terendam, dengan total kerugian material mencapai Rp4,89 miliar. BPBD Padang Pariaman melakukan evakuasi warga terjebak banjir, dan pemerintah daerah menyalurkan bantuan makanan bagi pengungsi. Total pengungsi mencapai 327 jiwa.
Pemerintah daerah dan BPBD terus berupaya melakukan penanganan darurat, evakuasi warga, pendataan kerusakan, dan penyaluran bantuan bagi para korban bencana. Koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk memastikan penanganan yang efektif dan efisien dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Barat.Padang – Sumatera Barat menghadapi tantangan serius akibat serangkaian bencana alam yang dipicu oleh cuaca ekstrem, dengan banjir, tanah longsor, dan angin kencang melanda berbagai wilayah. Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus berupaya melakukan penanganan darurat dan pendataan kerusakan akibat bencana ini, dengan fokus utama pada evakuasi warga dan penyaluran bantuan.
Kabupaten Agam menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan serangkaian bencana meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan jalan amblas. Banjir terjadi berulang sejak Sabtu (22/11/2025) dan merendam permukiman di beberapa kecamatan, mengganggu aktivitas warga dan merendam sedikitnya 30 rumah. Kerusakan infrastruktur jalan juga dilaporkan, dengan badan jalan amblas di Kecamatan Palupuah dan jembatan putus di Nagari Salareh Aia Timur. Banjir bandang di Kecamatan Tanjung Raya merusak berbagai fasilitas dan menutup jalan lingkar nagari. Tanah longsor melanda empat kecamatan, menutup akses jalan provinsi dan kabupaten. Angin kencang merusak rumah warga dan menutup sejumlah jalan. Jalan provinsi di Kecamatan IV Koto juga amblas, menyebabkan akses terputus total.
Di Kabupaten Padang Pariaman, dampak terparah terjadi akibat banjir, longsor, dan angin kencang yang menyebabkan ribuan warga terdampak di 17 kecamatan dan 56 nagari. Sebanyak 3.326 rumah terendam, dan total warga terdampak mencapai 10.042 jiwa. Banjir juga merusak 15 rumah dan menyebabkan 13 rumah hanyut ke aliran sungai. Longsor melanda 16 titik, menimbun badan jalan, merusak talud, dan memutus akses transportasi. Lahan pertanian seluas 138 hektare sawah dan 26 hektare ladang ikut terendam, dengan total kerugian material mencapai Rp4,89 miliar. BPBD Padang Pariaman melakukan evakuasi warga terjebak banjir, dan pemerintah daerah menyalurkan bantuan makanan bagi pengungsi. Total pengungsi mencapai 327 jiwa.
Kabupaten Pesisir Selatan juga mengalami dampak signifikan, dengan banjir pertama kali dilaporkan di Nagari Duku Utara, Kecamatan Koto XI Tarusan, pada Minggu (23/11/2025). Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi sekaligus Juru Bicara BPBD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Ilham Wahab, menjelaskan bahwa hujan lebat menjadi penyebab utama banjir yang merendam 418 rumah warga. “Petugas bergerak cepat mengevakuasi warga yang terjebak banjir,” kata Ilham. Meskipun tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan rumah, BPBD setempat terus memantau situasi untuk mengantisipasi potensi banjir susulan.
Kabupaten Solok juga mengalami dampak serius akibat tanah longsor yang terjadi di ruas Jalan Nasional Lubuk Selasih-Alahan Panjang pada Sabtu malam (22/11/2025). Material longsor menutup badan jalan, menyebabkan kemacetan dari kedua arah. “Longsor terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur sejak sore,” ujar Ilham Wahab. BPBD berkoordinasi dengan BPJN Sumbar untuk membuka kembali akses jalan yang tertutup. Longsor juga terjadi di Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, pada Selasa pagi (25/11/2025), yang masih menutup jalan kabupaten. Selain itu, banjir melanda Kubung pada waktu yang sama, merendam rumah warga di Jorong Batu Palano dan Kajai, memaksa evakuasi enam warga dari Batu Palano dan delapan warga dari Jorong Kajai. “Evakuasi dilakukan untuk memastikan keselamatan warga yang terjebak banjir,” katanya.
Bencana serupa juga melanda Muaro Busuk dan Kapondoh, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, di mana 50 rumah terdampak dan sekitar 100 jiwa terisolasi akibat runtuhnya jembatan. Kota Padang Panjang tidak luput dari dampak cuaca ekstrem, dengan tanah longsor menutup saluran irigasi di Silaiang Bawah pada Sabtu sore (22/11/2025), diikuti oleh angin kencang yang menyebabkan pohon tumbang dan merusak satu rumah serta menutup akses jalan.
Kabupaten Pasaman juga melaporkan kejadian pohon tumbang yang menimpa beberapa rumah warga pada Senin malam (24/11/2025), sementara di Pasaman Barat, angin kencang menyebabkan pohon tumbang di Nagari Aua Kuniang pada Senin sore (24/11/2025), dan longsor mengancam akses warga di Kecamatan Talamau. Kota Pariaman mengalami perluasan banjir ke titik permukiman lain pada 23 dan 24 November 2025, menggenangi beberapa rumah warga dan mengganggu aktivitas sekolah. Angin kencang juga melanda Kecamatan Pariaman Timur, Pariaman Selatan, dan Pariaman Tengah, menyebabkan pohon tumbang yang menghambat lalu lintas dan merusak infrastruktur.
Tanah Datar juga mengalami banjir, banjir bandang, longsor, dan angin kencang. Banjir pertama terjadi pada 23 November 2025 di Kecamatan Batipuh Selatan dan Kecamatan X Koto, merusak satu rumah warga di Nagari Padang Laweh dan memutus jembatan di Jorong Sungai Rayo, memaksa 18 KK atau 26 jiwa mengungsi. Banjir bandang kembali menghantam Nagari Malalo di Batipuh Selatan pada 24 November 2025, berdampak pada 18 KK atau 56 jiwa, merusak rumah, jembatan, saluran irigasi, dan sanitasi air bersih. Angin kencang dan longsor juga terjadi di beberapa nagari, menyebabkan kerusakan rumah dan mengancam permukiman warga. BPBD Sumbar mencatat total warga terdampak mencapai 59 jiwa atau 27 KK di Batipuh Selatan, ditambah 18 KK atau 26 jiwa di X Koto yang mengungsi secara mandiri.
Kota Solok juga melaporkan banjir di Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan, merusak rumah warga dan berdampak pada enam kepala keluarga dengan total 18 jiwa.
Pemerintah daerah dan BPBD terus berupaya melakukan penanganan darurat, evakuasi warga, pendataan kerusakan, dan penyaluran bantuan bagi para korban bencana. Koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk memastikan penanganan yang efektif dan efisien dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Barat.







