www.domainesia.com
News

BPBD Payakumbuh Latih Siswa SLB Mitigasi Bencana dan Simulasi Evakuasi Mandiri

37
×

BPBD Payakumbuh Latih Siswa SLB Mitigasi Bencana dan Simulasi Evakuasi Mandiri

Sebarkan artikel ini
tingkatkan-kesiapsiagaan-bencana-siswa-disabilitas,-bpbd-payakumbuh-gelar-simulasi-evakuasi
Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Siswa Disabilitas, BPBD Payakumbuh Gelar Simulasi Evakuasi

Payakumbuh – Upaya mewujudkan mitigasi bencana yang inklusif di Kota Payakumbuh terus digencarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Langkah konkret ini diwujudkan melalui pelaksanaan sosialisasi mitigasi serta simulasi evakuasi yang menyasar kelompok rentan di Sekolah Luar Biasa (SLB) B Aua Kuning, Payakumbuh Selatan, pada Senin (6/4/2026).

Inisiatif ini merupakan implementasi dari arahan Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, yang menekankan pentingnya pengurangan risiko bencana yang adil dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Fokus utama dari kebijakan ini adalah memastikan bahwa penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, dan perempuan dapat menjadi subjek aktif dalam perencanaan, aksesibilitas informasi, serta fasilitas evakuasi yang memadai.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh Devitra mengatakan, kegiatan ini dirancang khusus untuk mengakomodasi kebutuhan unik para siswa SLB yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, maupun sensorik. ‘Kegiatan ini sangat penting dan spesifik karena siswa SLB sebagai penyandang disabilitas memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik yang membutuhkan pendekatan khusus dalam penanggulangan bencana,’ ujarnya.

Devitra menambahkan bahwa penyandang disabilitas sering kali menghadapi tantangan besar dalam berinteraksi dengan lingkungan saat situasi darurat terjadi. ‘Dalam kondisi bencana, mereka berpotensi mengalami kesulitan untuk merespons dengan cepat. Karena itu, kita hadir untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan dasar penyelamatan diri,’ tuturnya.

Guna memastikan efektivitas edukasi, BPBD Kota Payakumbuh mengombinasikan penyampaian materi dengan praktik lapangan. Devitra menegaskan bahwa simulasi evakuasi menjadi instrumen krusial agar warga sekolah memiliki kesiapan mental dan fisik. ‘Kami tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga melakukan simulasi evakuasi agar siswa dan guru terbiasa serta tidak panik saat menghadapi kondisi darurat,’ katanya. Ia pun berharap langkah ini mampu menciptakan kemandirian di lingkungan sekolah. ‘Tujuan akhirnya adalah membangun kemandirian dan kesiapsiagaan warga sekolah, sehingga mereka dapatPayakumbuh – Upaya mewujudkan mitigasi bencana yang inklusif di Kota Payakumbuh terus diperkuat, salah satunya melalui pemberian edukasi khusus bagi kelompok rentan di Sekolah Luar Biasa (SLB) B Aua Kuning, Payakumbuh Selatan. Langkah strategis yang diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Payakumbuh ini merupakan bentuk implementasi dari arahan Wali Kota Payakumbuh, Zulmaeta, untuk memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, dan perempuan, memiliki akses yang setara dalam perencanaan serta fasilitas evakuasi saat terjadi situasi darurat.

Dalam pelaksanaannya, BPBD Kota Payakumbuh tidak hanya memberikan pemaparan materi, tetapi juga menyelenggarakan simulasi evakuasi secara langsung. Pendekatan ini dipilih agar para guru dan siswa dapat memahami prosedur penyelamatan diri dengan lebih efektif, mengingat karakteristik siswa SLB yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, maupun sensorik memerlukan penanganan yang spesifik.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh Devitra mengatakan, kegiatan ini memiliki urgensi tinggi karena menyasar kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam manajemen risiko bencana. ‘Kegiatan ini sangat penting dan spesifik karena siswa SLB sebagai penyandang disabilitas memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik yang membutuhkan pendekatan khusus dalam penanggulangan bencana,’ ujarnya.

Devitra menambahkan bahwa penyandang disabilitas sering kali menghadapi tantangan besar dalam berinteraksi dengan lingkungan saat terjadi bencana, sehingga keterampilan dasar sangat diperlukan untuk meminimalisir risiko. ‘Dalam kondisi bencana, mereka berpotensi mengalami kesulitan untuk merespons dengan cepat. Karena itu, kita hadir untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan dasar penyelamatan diri,’ tuturnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa metode praktik langsung menjadi kunci utama agar edukasi yang diberikan dapat terserap dengan baik oleh warga sekolah. ‘Kami tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga melakukan simulasi evakuasi agar siswa dan guru terbiasa serta tidak panik saat menghadapi kondisi darurat,’ katanya.

Melalui rangkaian kegiatan ini, BPBD Kota Payakumbuh berharap dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih tangguh dan mandiri. ‘Tujuan akhirnya adalah membangun kemandirian dan kesiapsiagaan warga sekolah, sehingga mereka dapat bertindak cepat,’ ucapnya.