www.domainesia.com
News

Dukungan Psikososial Kemkominfo Pulihkan Trauma Anak Terdampak Banjir di Sumatra

30
×

Dukungan Psikososial Kemkominfo Pulihkan Trauma Anak Terdampak Banjir di Sumatra

Sebarkan artikel ini
dukungan-psikososial-kemkomdigi-pulihkan-trauma-anak-terdampak-banjir-di-sumatra
Dukungan Psikososial Kemkomdigi Pulihkan Trauma Anak Terdampak Banjir di Sumatra

Padang – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Save the Children mengintensifkan upaya pemulihan psikologis anak-anak yang menjadi korban banjir di Padang, Medan, dan Aceh melalui program Mobil Dukungan Psikososial. Inisiatif yang diimplementasikan sejak Sabtu, 6 Desember 2025, ini memfokuskan diri pada pendampingan kelompok rentan dengan serangkaian kegiatan kreatif yang dirancang untuk meredakan kecemasan dan membangun kembali rasa aman.

Fokus utama dari program ini adalah memberikan dukungan psikologis yang komprehensif kepada anak-anak yang terdampak bencana. Di Kelurahan Belawan Bahagia, Lingkungan 8, sebanyak 102 anak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang meliputi menggambar, mewarnai, permainan kelompok, dan sesi mendongeng. Kegiatan-kegiatan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi pemulihan pascabencana yang holistik.

Ketua Tim Kemkominfo, Taofiq Rauf, menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya mencakup perbaikan infrastruktur fisik, tetapi juga harus memprioritaskan kesehatan mental anak-anak. Taofiq Rauf mengatakan, pendekatan ini sejalan dengan mandat Kemkominfo. “Pendekatan ini sejalan dengan mandat Kemkomdigi dalam memperkuat komunikasi publik yang inklusif dan responsif di wilayah terdampak,” ujarnya.

Menurut Syahferi Anwar, seorang fasilitator dari Save the Children, anak-anak di wilayah terdampak seringkali mengalami ketakutan yang mendalam pada fase awal pascabencana. Ia menyoroti bahwa suara hujan menjadi pemicu utama kecemasan. Syahferi Anwar mengatakan, respons anak-anak terhadap suara hujan. “Begitu hujan turun, yang mereka cari pertama adalah orang tua. Objek lekat mereka terguncang,” ujar Syahferi.

Anwar membandingkan kondisi ini dengan anak-anak di wilayah pesisir yang lebih terbiasa dengan banjir musiman. Ia juga mencontohkan situasi di Tamiang, sebuah wilayah longsor yang juga menjadi fokus pendampingan mereka, di mana anak-anak masih menolak untuk berkumpul bahkan dua hari setelah kejadian. “Mereka takut. Saat bertemu orang baru, mereka tambah cemas. Pendekatan harus perlahan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Syahferi Anwar menjelaskan bahwa metode pendampingan yang diterapkan melibatkan tiga tahap utama: pengenalan, kegiatan inti, dan fase transisi. Tujuan dari fase transisi adalah untuk memastikan bahwa anak-anak tidak kembali mengalami trauma awal setelah program selesai. “Jangan sampai anak sudah stabil lalu kita pergi dan mereka kembali ke trauma awal. Itu yang kami hindari,” katanya.

Untuk anak-anak yang terpisah dari orang tua mereka, para pendamping menggunakan pendekatan Psychological First Aid. Anak-anak didekati secara bertahap sambil terus memantau emosi mereka. “Kalau anak tertutup, jangan dipaksa bicara. Kita ikuti ritmenya. Identitas tetap kami kumpulkan melalui Restory Family Link,” jelasnya.

Syahferi Anwar menambahkan bahwa idealnya, satu fasilitator mendampingi antara 10 hingga 20 anak dalam setiap sesi. Namun, kapasitas dapat ditingkatkan hingga 30 anak untuk kegiatan yang dilakukan di luar ruangan.

Di Aceh, kegiatan dukungan psikososial yang diselenggarakan oleh Kominfo diikuti oleh 218 anak perempuan, 194 anak laki-laki, serta 88 pendamping. Kegiatan ini berlangsung di Posko Pengungsian Meunasah Krueng, Manyang Cut, Meuredeu Pidie Jaya pada Minggu, 7 Desember. Keesokan harinya, kegiatan serupa dilanjutkan di Grong-Grong Capa dengan partisipasi 158 anak, dan kemudian di Balee Panah dengan 112 anak.

Sementara itu, di Padang, kegiatan serupa diadakan di tiga lokasi berbeda. Lokasi pertama adalah posko pengungsian Akademi Maritim Sapta Samudera, Lubuk Minturun, pada Jumat, 5 November, dengan partisipasi 112 anak dan 32 pendamping. Lokasi berikutnya adalah SDN 02 Cupak Tengah dan Posko Guo Belimbing pada Sabtu, 6 Desember, yang diikuti oleh 185 anak dan 45 pendamping.

Berbagai aktivitas yang diselenggarakan terbukti efektif dalam memulihkan rutinitas dan kepercayaan diri anak-anak yang terdampak bencana. Kegiatan-kegiatan ini dinilai mampu memperkuat interaksi sosial dan mengurangi tingkat kecemasan yang dialami anak-anak setelah bencana.

Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, para fasilitator juga melatih remaja dan warga setempat untuk menjadi relawan psikososial. Langkah ini bertujuan untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.

Raffi Faezah, salah seorang peserta, mengungkapkan kegembiraannya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia dengan bangga menunjukkan gambar rumah dan truk yang telah ia warnai. “Aku suka gambar rumah dan truk,” ujarnya di akhir sesi.

Peserta lainnya, Amira, menyampaikan bahwa kegiatan menggambar dan mendengarkan dongeng adalah bagian favoritnya dari program ini.

Kemkominfo menegaskan komitmennya untuk terus memperluas program dukungan psikososial sebagai bagian dari upaya mempercepat pemulihan nasional. Program ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa komunikasi publik berjalan efektif dan berpihak pada kelompok-kelompok rentan.

Selain itu, Kemkominfo juga membangun posko dan Media Center di sejumlah wilayah terdampak bencana. Upaya ini mencakup pemulihan jaringan telekomunikasi serta penyediaan ruang koordinasi darurat bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan terkait.

Di Aceh, posko terpusat di Gedung Sekretariat Daerah Provinsi. Di Sumatra Barat, posko berlokasi di Komplek Kantor Gubernur. Sementara itu, di Sumatra Utara, posko beroperasi di Gedung Kwarda Gerakan Pramuka Sumut, GOR Pandan Tapanuli Tengah, serta Posko Dukungan Psikososial di Hamparan Perak.

Seluruh posko berfungsi sebagai pusat informasi, ruang kerja bagi jurnalis, titik konferensi pers, serta lokasi pemantauan jaringan telekomunikasi oleh Balai Monitoring. Posko-posko ini juga menjadi ruang redaksi bersama untuk penyusunan narasi publik terkait penanganan bencana.