Jakarta – Kabar duka menyelimuti dunia hiburan tanah air atas wafatnya aktor senior Epy Kusnandar pada 3 Desember 2025. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan para penggemarnya. Prosesi pemakaman yang berlangsung pada 4 Desember 2025 di TPU Jeruk Purut kemudian memunculkan pertanyaan terkait lokasi peristirahatan terakhir sang aktor.
Publik menyoroti bahwa lokasi pemakaman tersebut tidak sesuai dengan wasiat yang pernah diungkapkan oleh Epy Kusnandar semasa hidupnya. Almarhum diketahui pernah menyampaikan keinginannya untuk dimakamkan di Garut, berdekatan dengan makam ibundanya. Ketidaksesuaian ini mendorong rasa ingin tahu mengenai alasan di balik perubahan lokasi pemakaman.
Deniar Hendarsah, adik dari mendiang Epy Kusnandar, memberikan klarifikasi terkait keputusan keluarga dalam memilih TPU Jeruk Purut sebagai lokasi pemakaman. Faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah kondisi emosional dan psikologis Karina Ranau, istri dari almarhum.
Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube pada Kamis (4/12/2025), Deniar Hendarsah menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi menjaga kondisi psikologis Karina Ranau. “Karena pertimbangan banyak hal, terutama masalah emosional dan psikologis, Karina nggak mau jauh Kang Epy dimakamkan,” ungkap Deniar Hendarsah.
Keinginan Karina Ranau untuk selalu berada dekat dengan mendiang suami menjadi alasan utama perubahan lokasi pemakaman. Keluarga memahami dan mempertimbangkan kebutuhan emosional Karina Ranau yang tengah berduka.
Sebelumnya, Epy Kusnandar pernah mengungkapkan keinginannya untuk dimakamkan di Garut, dekat dengan makam ibunya. Pernyataan tersebut disampaikan saat wawancara terkait penayangan film horor “Selepas Tahlil”. Epy Kusnandar kala itu menegaskan, “Saya serius. Kalau saya meninggal dunia, saya ingin dimakamkan di Garut, dekat ibu saya. Kalaupun nggak berdampingan, ya, minimal berdekatan.”
Bagi almarhum, Garut bukan hanya sekadar kampung halaman, tetapi juga tempat yang memiliki makna mendalam karena menyimpan kenangan indah bersama ibunda tercinta. Meskipun wasiat Epy Kusnandar tidak dapat direalisasikan, keluarga berharap keputusan ini dapat diterima dengan lapang dada. Keluarga pada akhirnya memilih keputusan berdasarkan kebutuhan emosional, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap wasiat Epy.







