www.domainesia.com
News

Rayakan Sastra: Bukittinggi Gelorakan Semangat Literasi dari Jam Gadang

43
×

Rayakan Sastra: Bukittinggi Gelorakan Semangat Literasi dari Jam Gadang

Sebarkan artikel ini
pentas-literasi-hari-sastra-indonesia-digaungkan-dari-jam-gadang
Pentas Literasi Hari Sastra Indonesia Digaungkan dari Jam Gadang

Bukittinggi – Perayaan Hari Sastra Indonesia di Kota Bukittinggi menjadi wadah untuk merefleksikan esensi sastra dalam kehidupan berbangsa dan berbudaya, dengan harapan dapat meningkatkan semangat literasi di tengah masyarakat.

Momentum peringatan Hari Sastra Indonesia di Bukittinggi dimanfaatkan untuk menyoroti peran penting kota tersebut dalam sejarah sastra Indonesia. Pada tanggal 24 Maret 2013, Bukittinggi menjadi tempat bersejarah ketika Hari Sastra Indonesia secara resmi ditetapkan dalam pertemuan sastrawan nasional yang diadakan di Kweekschool, SMAN 2 Bukittinggi. Pertemuan penting ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Republik Indonesia. Pemilihan tanggal 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia merupakan penghormatan terhadap tanggal kelahiran Abdoel Moeis, seorang tokoh sastrawan, wartawan, dan politisi terkemuka yang berasal dari Nagari Sungaipuar, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang dikenal luas melalui karyanya yang berjudul “Salah Asuhan”.

Pada malam Minggu, 6 Juli 2025, sebuah kafe yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, kota kelahiran proklamator Bung Hatta, menjadi lokasi penyelenggaraan Malam Sastra. Meskipun udara malam terasa dingin, khas iklim Bukittinggi, antusiasme dalam diskusi dan apresiasi terhadap karya sastra berhasil menciptakan suasana yang hangat dan akrab.

Kafe yang didesain dengan nuansa modern dan pencahayaan yang lembut menjadi tempat berkumpulnya para pecinta sastra. Mereka saling berbagi karya literasi dan terlibat dalam diskusi yang mendalam. Muhammad Subhan dari Padang Panjang membuka acara dengan orasi budaya sastra yang mendapatkan sambutan hangat dari para hadirin.

Tidak hanya orang dewasa, Kardelia, seorang siswi dari SD Jamiatul Hujaj Kota Bukittinggi, turut berpartisipasi dalam acara tersebut dengan membacakan puisi karyanya sendiri yang berjudul “Upiak Adel dan Buku Usang di Jam Gadang”. Penampilannya yang memukau berhasil mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari para penonton.

Asraferi Sabri, inisiator kegiatan ini, menekankan bahwa peringatan Hari Sastra Indonesia merupakan momen krusial untuk merayakan dan merenungkan peran sastra dalam kehidupan berbangsa dan berbudaya. “Kementerian Kebudayaan baru-baru ini juga menggelar acara untuk memperingati Hari Sastra Indonesia ke-12 sekaligus meluncurkan buku tentang perjalanan sastrawan Taufiq Ismail, yang berusia 90 tahun,” katanya.

Peringatan Hari Sastra diharapkan dapat menjadi sarana untuk merefleksikan peran sastra dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus merayakan kekayaan bahasa dan budaya Indonesia. Salah satu cara untuk merawat bahasa dan sastra adalah dengan memperkaya glosarium, atau kumpulan kosakata yang memiliki makna mendalam. Selain itu, acara-acara sastra diharapkan dapat menjadi media pemersatu dan penginspirasi bagi masyarakat, serta mendorong perkembangan sastra Indonesia agar semakin dikenal di kancah global. Tema yang diusung dalam perayaan kali ini adalah “Sastra Merawat Ingatan, Mengukir Peradaban”.