Padang – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan melanda wilayah tersebut hingga 29 November 2025. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menyusul adanya pembaruan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perpanjangan masa prakiraan cuaca ekstrem.
Perkembangan situasi terkini menunjukkan bahwa durasi cuaca ekstrem di Sumatera Barat diperkirakan lebih panjang dari yang diperkirakan sebelumnya. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, menjelaskan bahwa pemantauan dinamika perkembangan cuaca terus dilakukan dengan dukungan data yang konsisten dari BMKG. “Dinamika perkembangan terus kita pantau, dan dukungan data dari BMKG masuk secara konsisten. Ternyata, durasi cuaca ekstrem di Sumbar lebih panjang dari perkiraan semula. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan petugas kebencanaan,” jelasnya.
Pemerintah daerah menekankan pentingnya langkah-langkah antisipasi yang harus diambil oleh seluruh pihak, termasuk masyarakat, dalam menghadapi potensi risiko yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem. Kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap imbauan dari lembaga meteorologi serta arahan dari petugas kebencanaan menjadi faktor krusial dalam upaya mitigasi dampak buruk yang mungkin terjadi.
Secara khusus, Arry Yuswandi mengingatkan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang rentan terhadap banjir dan longsor untuk meningkatkan kehati-hatian. Prioritas utama adalah keselamatan diri dan keluarga. “Kami meminta masyarakat berhati-hati, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor. Ikuti himbauan BMKG dan arahan petugas di lapangan. Keselamatan harus menjadi prioritas,” tegas Arry.
BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau sebelumnya telah merilis informasi terbaru mengenai kondisi cuaca di berbagai wilayah Sumatera Barat. Berdasarkan analisis BMKG, keberadaan Bibit Siklon Tropis 95B di Selat Malaka bagian timur perairan Aceh memicu pola pertemuan arus angin di wilayah Sumatera Barat. Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif turut memperkuat kondisi ini dengan meningkatkan suplai uap air dan kelambapan udara.
Kombinasi dari faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang labil, yang pada gilirannya memicu pertumbuhan awan hujan tebal di berbagai wilayah. Akibatnya, dalam sepekan terakhir, hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang telah terjadi. BMKG memprediksi bahwa potensi cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat hingga ekstrem yang berpotensi disertai angin kencang, masih akan berlanjut hingga 29 November 2025.
Beberapa wilayah yang diperkirakan akan terdampak meliputi Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Pasaman, Pesisir Selatan, serta Kota Padang Panjang, Kota Pariaman, dan Kota Padang. Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berkoordinasi secara intensif untuk mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat, dengan tujuan mengurangi dampak buruk yang mungkin ditimbulkan oleh cuaca ekstrem ini.







