www.domainesia.com
News

Semen Padang Rayakan Nasionalisasi, Terus Berkontribusi Bagi Negeri

90
×

Semen Padang Rayakan Nasionalisasi, Terus Berkontribusi Bagi Negeri

Sebarkan artikel ini
nasionalisasi-perusahaan-belanda-1958,-semen-padang-brand-bumn-tertua
Nasionalisasi Perusahaan Belanda 1958, Semen Padang Brand BUMN Tertua

Padang – PT Semen Padang memperingati momentum bersejarah nasionalisasi perusahaan dari tangan Belanda, sebuah peristiwa yang terjadi pada bulan Juli 1958. Peringatan ini menjadi penanda penting bagi perjalanan perusahaan sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tertua di Indonesia, sekaligus merefleksikan kontribusinya terhadap perekonomian bangsa.

Peristiwa serah terima aset dari Ir. Vander Land dari Kerajaan Belanda kepada J. Sadiman dari BAPPIT (Badan Pimpinan Perusahaan Industri Tambang) pada Juli 1958 menandai babak baru bagi Semen Padang. Pada masa itu, Semen Padang menjadi salah satu aset penting dalam industri pertambangan nasional.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama (Dirut) Semen Padang, Pri Gustari Akbar, dalam amanatnya saat memimpin upacara peringatan di plaza kantor perusahaan pada Senin (07/07/2025), menekankan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni. “Ini bukan sekadar peringatan seremonial. Hari ini panggilan bagi kita semua untuk mengingat kembali jejak perjuangan para pendahulu dan merenungkan makna keberadaan kita hari ini sebagai bagian dari perusahaan yang telah menjadi saksi sejarah bangsa,” kata Pri Gustari.

Nasionalisasi ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958. Dari perspektif ekonomi, peristiwa Juli 1958 dapat dilihat sebagai wujud kemerdekaan ekonomi bangsa yang terlambat. Meskipun Indonesia telah merdeka pada tahun 1945, proses nasionalisasi baru dapat diimplementasikan 23 tahun kemudian akibat situasi politik dalam negeri dan keterbatasan tenaga ahli. Akibatnya, pembukuan sekitar 700 perusahaan besar dan kecil yang telah menjadi milik bangsa masih dikerjakan oleh tenaga ahli Belanda hingga tahun 1970.

Dalam konteks BUMN, Semen Padang memiliki keunggulan sebagai produk dengan merek dan logo tertua. Sebagai perbandingan, Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada tahun 1895 di Purwokerto. Sementara itu, kereta api merupakan yang tertua, yaitu sejak tahun 1867, namun perusahaan ini menetapkan hari berdirinya pada tahun 1945. Berdasarkan catatan sejarah, merek tertua setelah Semen Padang adalah rokok Djie Sam Soe yang berdiri pada tahun 1913.

Pri Gustari Akbar menegaskan bahwa nasionalisasi Semen Padang adalah “penanda bangsa ini, dengan segala keberaniannya, berdiri tegak mengambil alih kendali atas masa depan industrinya sendiri.” Ia menambahkan bahwa nasionalisasi tidak hanya terjadi pada Semen Padang, tetapi juga pada banyak perusahaan asing lainnya, demi menegakkan kedaulatan ekonomi bangsa. “Kita tidak hanya mewarisi pabrik ini, kita mewarisi semangat perlawanan, kemandirian, dan keyakinan bahwa putra-putri bangsa mampu mengelola industri strategis ini,” ujarnya.

Sebagai pabrik semen tertua di Asia Tenggara, Semen Padang terus berupaya mengembangkan diri. Perusahaan ini memegang posisi penting sebagai penguasa pasar di Sumatera dan menjadi pilar utama bagi holding Semen Indonesia. Seiring dengan perkembangan industri semen di Indonesia, muncul perusahaan-perusahaan semen lain yang merupakan “adik” dari Semen Padang. “Kita adalah perusahaan berusia 115 tahun. Sudah melewati perang, nasionalisasi, krisis ekonomi, reformasi, pandemi dan kini era digital. Kalau hari ini kita sedang berada dalam tekanan, artinya bukan sedang gagal tapi bersiap untuk bangkit kembali!” tegas Pri Gustari.

Meskipun industri semen saat ini mengalami sedikit penurunan, tanda-tanda kebangkitan sudah mulai terlihat. COO Danantara menekankan lima poin penting yang harus diperhatikan, yaitu integritas, profesionalisme, dan efisiensi dalam bekerja. Pesan ini mencakup larangan berutang budi, larangan menerima tekanan dalam bekerja, larangan penggunaan protokol berlebihan, larangan keterlibatan keluarga dalam urusan kantor, dan larangan bermain golf di hari kerja.

Dony juga menyampaikan pesan kepada Semen Indonesia agar anak usaha diberikan keleluasaan untuk berakselerasi sesuai dengan aturan dan koridor yang berlaku, sementara induk usaha fokus pada pengendalian kinerja dan memberikan arahan serta masukan yang konstruktif. Ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan industri strategis seperti pabrik semen karena memiliki dampak berganda bagi perekonomian daerah dan nasional.

Menyikapi hal tersebut, Pri Gustari mengajak seluruh karyawan PT Semen Padang Grup, “Seluruh insan PT Semen Padang Grup dari yang mengawal produksi di Indarung hingga yang mengelola distribusi di pelosok Sumatera, kita semua adalah energi utama perusahaan ini. Di saat yang sama, mari kita perkuat komitmen terhadap keberlanjutan dengan terus menjaga keseimbangan antara produktivitas, kelestarian lingkungan, dan kontribusi bagi masyarakat.” Pri Gustari juga menyampaikan maksudnya untuk memperkokoh posisi Semen Padang di Sumatera.

Sebagai bukti sejarah panjang perusahaan, Pabrik Indarung 1 yang berdiri pada tahun 1910 telah dinyatakan sebagai cagar budaya nasional pada tahun 2023. Selain itu, arsip Pabrik Indarung I PT Semen Padang yang mencakup periode 1910 hingga 1970 telah diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP). Pengakuan ini diserahkan oleh UNESCO pada acara 10th MOWCAP General Meeting yang digelar di Ulaanbaatar, Mongolia, pada Rabu, 8 Mei 2024.

Momentum nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda telah lama berlalu. Kini, fokus utama adalah bekerja untuk masa depan.