www.domainesia.com
News
17
×

Sebarkan artikel ini

Oleh Cece Novitrian

FAIRY  bread atau roti peri merupakan roti lapis yang ditaburi dengan gula warna-warni. Roti ini menjadi hidangan populer sebagai makanan pesta anak-anak karena mudah dibuat, murah, serta tampilannya meriah. Pencetusnya tidak diketahui, namun roti peri pertama kali disebutkan dalam sebuah surat kabar Australia, Hobart pada tahun 1920-an.

Tidak diketahui siapa penemu makanan roti peri ini sebelumnya, namun nama roti peri pertama kali disebut dalam sebuah surat kabar di Australia, Hobart Mercury 25 April 1929, halaman 9. Artikel tersebut berisi himbauan kepada warga untuk membawa sebuah hidangan ke acara Big Swan Party yang diadakan sebagai simbol penghormatan kepada putri Elizabeth II. Acara ini mengundang anak-anak di Consumptive Sanatorium — fasilitas medis yang digunakan untuk merawat penyakit jangka panjang terutama tuberkulosis (TB), jadi memiliki makna tersirat bahwa anak-anak Inggris (Putri Elizabeth II) dihormati, anak-anak Australia juga dirayakan. Dalam himbauan tersebut dinyatakan bahwa dibutuhkan setidaknya 72-73 kg permen untuk semua untuk semua 2.623 peserta pesta (yang disebut sebagai ‘swans’. Pesta akan dimulai dengan roti peri (fairy bread) dilanjutkan dengan kue, tart, dan lain-lain. Dari himbauan itulah kata roti peri pertama kali muncul dalam surat kabar yang ada di Australia pada tahun 1929.

Berikut kutipan asli dari arsip surat kabar tersebut:
“Citizens are appealed to for sweets, as it will take 160lb. to fill all the swans [2,623 participants]. The children will start their party with fairy bread and butter and 100’s and 1,000’s, and cakes, tarts, and home-made cakes, the gift of the 96 helpers, not forgetting jellies and ice-creams, etc.” (Hobart Mercury, 25 April 1929, dikutip dalam Be A Fun Mum, The History of Fairy Bread, 2017)

Setelah menelusuri sejarah dari roti peri, ada lebih baiknya kita mengetahui bagaimana cara pembuatan hidangan populer tersebut. Roti peri menjadi pilihan yang populer untuk pesta anak-anak karena cara pembuatannya yang mudah dan hanya menggunakan beberapa bahan saja, namun sudah cukup menarik perhatian anak-anak. Bahan yang dibutuhkan hanya tiga, yaitu roti tawar, mentega/margarin dan sprinkles (hundreds and thousands). Tidak hanya bahannya yang sederhana, cara pembuatannya pun juga. Pertama, siapkan roti tawar lalu dipotong menjadi segitiga. Setelah itu, olesi sisi roti tawar dengan mentega/margarin, terakhir taburi sisi roti yang telah diolesi mentega/margarin dengan sprinkles, dan roti peri telah siap dihidangkan. Seorang mahasiswa Universitas Andalas, Muhammad Agung Andani memberikan pendapatnya tentang macam bentuk fairy bread, “Menurut saya, mungkin memang ada bentuk variasi lain dari roti peri, bisa berbentuk bunga, segiempat, bulat dan semacamnya. Namun tidak ada yang lebih kreatif ketimbang bentuk segitiga, karena bentuk ini telah menjadi ikon dari fairy bread”. Cara pembuatan fairy bread memang dapat divariasikan agar lebih menarik, contohnya membuat bentuk roti dalam berbagai macam bentuk selain segitiga, seperti bentuk bintang, bentuk hati dan sebagainya.

Pesta ulang tahun anak-anak di Australia identik dengan hidangan roti peri ini. Kenapa bisa? Seorang mahasiswa Universitas Negeri Padang, Muhammad Zikri Alfurqan menuturkan, “Alasan utama fairy bread begitu melekat dengan pesta ulang tahun anak di Australia adalah karena hidangan ini merupakan perpaduan jenius antara kepraktisan mutlak bagi orang tua dan daya tarik magis bagi anak-anak. Dari sudut pandang orang tua, ini adalah hidangan pesta impian: sangat murah, tidak perlu dimasak, dan bisa dibuat dalam jumlah banyak hanya dalam hitungan menit. Namun bagi seorang anak, piring berisi potongan roti segitiga dengan ledakan warna-warni dari “hundreds and thousands” bukanlah sekadar camilan. Itu adalah sebuah undangan ke dunia fantasi, sebuah makanan yang namanya saja sudah terdengar seperti dongeng, dengan rasa manis sederhana yang pasti disukai.”

Lebih jauh dia menambahkan faktor yang membuat fairy bread menjadi ikon hidangan pesta ulang tahun anak-anak adalah perannya sebagai kapsul waktu nostalgia. “Orang dewasa yang menyiapkannya hari ini adalah anak-anak yang sama yang menyantapnya dengan gembira di pesta mereka puluhan tahun lalu. Dengan menyajikannya, mereka tidak hanya memberi makan anak-anak, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan masa kecil mereka yang riang. Oleh karena itu, fairy bread terus menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan karena ia adalah simbol kebahagiaan yang tulus dan sederhana—sebuah tradisi penuh warna yang diwariskan untuk memastikan setiap generasi merasakan kegembiraan yang sama.”

Jadi, ada beberapa faktor yang membuat roti peri ini selalu hadir dalam setiap perayaan meriah anak-anak di Australia. Pertama, faktor sejarah. Dari sejarah yang sudah dijelaskan sebelumnya, roti peri hadir dalam perayaan anak-anak bersama hidangan lainnya. Kedua, karena roti peri sangat mudah untuk dibuat. Kesederhanaan dari roti peri ini menjadi pilihan terbaik bagi orang tua dari anak-anak untuk menjadikannya sebagai hidangan pesta, ditambah lagi anak-anak pasti menyukainya karena tampilan warna-warni dari hidangan tersebut. Terakhir yaitu faktor tradisi. Menghidangkan roti peri ketika pesta sudah menjadi hal turun temurun di Australia. Hidangan ini tidak terlalu populer dimakan sehari di kalangan orang dewasa, namun terkadang mereka makan hidangan ini karena merasa nostalgia.(*) (Penulis Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)