www.domainesia.com
News

Canduang Koto Laweh Luncurkan PRIME untuk Perkuat Layanan Kesehatan

11
×

Canduang Koto Laweh Luncurkan PRIME untuk Perkuat Layanan Kesehatan

Sebarkan artikel ini
pemerintah-nagari-canduang-koto-laweh-kecamatan-canduang-gelar-peluncuran-program-penguatan-layanan-kesehatan-terintegrasi-menuju-nagari-sehat
Pemerintah Nagari Canduang Koto Laweh Kecamatan Canduang Gelar Peluncuran Program Penguatan Layanan Kesehatan Terintegrasi Menuju Nagari Sehat

Agam – Penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat di Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, mulai digerakkan melalui peluncuran Program PRIME yang digelar di Aula Kantor Nagari Canduang Koto Laweh, Rabu (7/5/2026).

Program ini menargetkan penguatan peran kader posyandu, bidan, dan layanan kesehatan nagari agar implementasi Posyandu ILP berjalan lebih efektif. Peluncuran ditandai dengan pemukulan tambua bersama Ketua TP Posyandu Kabupaten Agam, dr. Hj Merry Yuliesday, MARS atau Merry Beni Warlis.

Sejak pagi, para kader posyandu dari berbagai jorong sudah memenuhi ruangan dengan seragam khas masing-masing wilayah. Kegiatan itu turut dihadiri bidan dari Poskesri, Pustu, dan Polindes, kepala puskesmas beserta staf, perangkat nagari, unsur pemerintah kecamatan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Nagari, serta organisasi masyarakat.

Program PRIME merupakan singkatan dari Poskesri and Rural Health Improvement through Mentoring Empowerment. Inisiatif ini digagas NGO JEMARI Sakato bersama Pemerintah Nagari Canduang Koto Laweh.

Dr. Merry menilai kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan Posyandu ILP. Ia menyebut program yang didampingi JEMARI Sakato sejalan dengan kebijakan nasional dan arah pembangunan daerah.

“Ini bisa menjadi pionir. Pengalaman di Canduang Koto Laweh nantinya bisa ditularkan ke nagari lain seperti Lasi dan Bukik Batabuah,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan kapasitas kader melalui enam Standar Pelayanan Minimal, terutama di bidang kesehatan, akan membantu meningkatkan mutu pelayanan posyandu di tingkat nagari.

Wali Nagari Canduang Koto Laweh, M. Januar, mengatakan nagarinya memiliki 86 kader posyandu yang tersebar di 11 jorong. Menurut dia, keberadaan kader kesehatan menjadi modal penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Ia menegaskan, dengan banyaknya dukungan program peningkatan kapasitas, nagari tidak seharusnya tertinggal dalam pelayanan kesehatan.

Plt. Direktur JEMARI Sakato, Syafrimet Azis, menjelaskan Canduang Koto Laweh dipilih sebagai lokasi dampingan PRIME Project karena dinilai memiliki komitmen keberlanjutan yang kuat sejak didampingi JEMARI pada 2010.

Ia menyebut sejumlah inisiatif warga di nagari itu masih berjalan hingga kini, termasuk aktifnya Kelompok Siaga Bencana dan keberhasilan masyarakat Jorong Saratuih Janjang membangun sistem air bersih partisipatif.

Program Manager PRIME-JEMARI Sakato, M. Fathur Rahman, SKM (Epid), bersama Sekretaris Nagari Canduang Koto Laweh, Adikus Endang, menyampaikan bahwa PRIME berfokus pada tiga hal, yakni peningkatan kapasitas kader dan posyandu, mentoring kesehatan hingga ke rumah-rumah warga, serta penguatan layanan kesehatan nagari melalui Poskesri.

JEMARI akan mendampingi nagari tersebut hingga 31 Desember 2026.

“Target kami bukan hanya kegiatan seremonial. Kami ingin memastikan tidak ada satu jiwapun yang tidak terlayani kesehatannya dan tidak ada satu jiwapun yang tidak tercatat kesehatannya di Canduang Koto Laweh. Itu syarat utama Integrasi Layanan Primer,” tegas Fathur.

Dukungan serupa juga disampaikan Kabid Bina Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari Kabupaten Agam, Rini Harpega, serta pejabat fungsional promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Agam, Wanetri.

Keduanya menekankan bahwa pelaksanaan ILP memerlukan dukungan lintas sektor, tidak hanya dari bidang kesehatan. Terbitnya Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 juga mengubah fungsi posyandu, yang kini tidak lagi sekadar dipahami sebagai UKBM, melainkan sebagai lembaga layanan yang melayani seluruh siklus kehidupan masyarakat.

Perubahan itu membuat peran kader semakin besar.

Namun, di lapangan para kader masih menghadapi sejumlah kendala. Nurlaili, kader dari Jorong Saratuih Janjang, mengatakan penerapan Posyandu ILP di beberapa posyandu belum berjalan maksimal.

Ia menyebut hambatan utama masih pada minimnya jumlah kader dan pelatihan yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan lapangan.

“Kadang masyarakat belum terlalu paham pentingnya datang ke posyandu. Untuk menarik masyarakat mungkin perlu dibuat undangan atau kegiatan yang lebih menarik supaya orang mau datang,” ujarnya.

Ia berharap pendampingan JEMARI Sakato dapat menghadirkan pelatihan yang lebih inovatif dan aplikatif. Menurut dia, kader tidak cukup hanya menerima materi, tetapi juga perlu praktik langsung agar lebih mudah dipahami.

“Harapan saya pelatihannya nanti bukan hanya materi saja, tapi ada praktik langsung supaya lebih menyerap ke kader. Kemudian juga perlu ada sosialisasi ke masyarakat di jorong-jorong bahwa posyandu ini penting untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka sendiri,” katanya.

Pernyataan para kader menunjukkan bahwa keberhasilan Posyandu ILP tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau dukungan program, tetapi juga pada kesiapan kader dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk aktif memanfaatkan layanan kesehatan di tingkat nagari.

Di akhir kegiatan, para kader masih terlihat berdiskusi bersama tim pendamping dan unsur pemerintah daerah. Sejumlah peserta juga tampak mencatat materi serta mengabadikan sesi pelatihan melalui telepon genggam.

Pada sesi co-creation usai istirahat siang, fasilitator JEMARI Sakato mendorong keterlibatan aktif para kader dan bidan desa untuk memetakan kondisi saat ini, menyusun mimpi bersama selama delapan bulan ke depan, serta merancang cara mencapainya.

Antusiasme peserta menandakan bahwa penguatan layanan kesehatan berbasis masyarakat di Canduang Koto Laweh tidak berhenti pada seremoni, melainkan mulai bergerak menjadi kerja bersama banyak pihak.

JEMARI Sakato sendiri merupakan lembaga nirlaba yang telah berkiprah lebih dari 20 tahun di Sumatera Barat dan berbagai daerah di Indonesia, dengan fokus pada tata kelola pemerintahan, pembangunan inklusif, pendidikan dan kesehatan, serta respons kemanusiaan dan kebencanaan.