Solok – Fakultas Teknik Universitas Andalas dan Dinas Pertanian Kabupaten Solok membuka peluang kerja sama untuk mengembangkan sistem pengairan sawah berbasis energi terbarukan dengan memanfaatkan panel surya. Gagasan itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Rabu (29/4/2026) dengan fokus pada upaya menghadirkan pertanian modern yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.
Dalam forum tersebut, kedua pihak menyamakan pandangan mengenai kebutuhan inovasi teknologi di sektor pertanian. Langkah ini dinilai penting di tengah meningkatnya tuntutan produksi pangan global.
Dekan FT Unand, Prof. Dr. Ir. Is Prima Nanda, MT, IPU, ASEAN Eng, mengatakan FGD ini menjadi pintu awal penjajakan kerja sama yang diharapkan berlanjut pada kesepakatan konkret untuk mendukung pengembangan pertanian di Kabupaten Solok.
“Penyamaan sudut pandang terhadap potensi kerja sama pengembangan sistem pengairan sawah berbasis energi terbarukan melalui pemanfaatan solar panel diharapkan dapat melahirkan kesepakatan untuk kemajuan pertanian modern,” ujarnya.
Ia menjelaskan, forum itu juga dihadiri Manajer Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Prof. Dr. Ir. Nurhamidah, S.T., M.T., M.Eng.Sc., IPM., Manajer Pendidikan dan Kemahasiswaan Ir. Ridwan, S.T., M.T., Direktur Kemahasiswaan Universitas Andalas Dr. Eng. Ir. Dendi Adi Saputra, S.T., M.T., Ketua Program Studi Arsitektur Ir. Ahmad Junaidi, M.T., M.Eng.Sc., serta jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Solok.
Is Prima Nanda menilai pertemuan itu juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan inovasi teknologi yang berkelanjutan. Menurut dia, kolaborasi tersebut penting untuk meningkatkan efisiensi dan kemandirian energi pada sistem irigasi pertanian.
Ia menyebut pengairan sawah berbasis energi terbarukan, khususnya pompa air tenaga surya (PATS), dapat menjadi solusi ramah lingkungan yang mampu menekan biaya produksi petani hingga 40 persen.
“Sistem ini menggunakan panel surya untuk menggerakkan pompa listrik tanpa BBM, cocok untuk daerah tropis, dan mendukung swasembada pangan dengan mengatasi kekeringan,” katanya.







