SOLOK SELATAN – Kejaksaan Negeri Solok Selatan (Kejari Solsel) memperingati Hari Lahir (Harlah) Kejaksaan Republik Indonesia (RI) ke-80 dengan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk merefleksikan peran historis dan kontribusi lembaga tersebut dalam sistem hukum nasional. Peringatan yang jatuh pada tanggal 2 September 2025 ini menjadi momentum penting bagi seluruh jajaran kejaksaan untuk meneguhkan komitmen dalam penegakan hukum.
Puncak acara peringatan Harlah Kejaksaan RI ke-80 di Kejari Solsel ditandai dengan upacara bendera yang diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan kantor Kejari Solsel. Pelaksanaan upacara berlangsung khidmat, mencerminkan keseriusan dan dedikasi seluruh jajaran Kejaksaan dalam menjalankan tugas dan fungsi yang diamanahkan.
Kajari Solok Selatan Fitriansyah Akbar, SH, MH, menekankan bahwa Harlah Kejaksaan bukan sekadar kegiatan seremonial belaka, melainkan sebuah kesempatan untuk merenungkan perjalanan panjang Kejaksaan dalam menegakkan hukum di Indonesia sejak awal kemerdekaan. “Hari Lahir Kejaksaan bukan hanya momentum seremonial, melainkan cermin perjalanan hukum Indonesia sejak awal kemerdekaan. Ada dua makna besar yang terkandung di dalamnya, Pengingat Sejarah dan Peran Kejaksaan,” ujarnya.
Kajari Fitriansyah Akbar juga menjelaskan signifikansi tanggal 2 September dalam sejarah Kejaksaan. Lima belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, Presiden Soekarno melantik Gatot Taroenamihardja sebagai Jaksa Agung pertama RI, sebuah peristiwa penting yang menandai berdirinya Kejaksaan sebagai institusi penegak hukum yang sah di bawah naungan negara.
Pengakuan resmi terhadap peringatan Harlah Kejaksaan pada tanggal 2 September baru ditetapkan pada tahun 2023 melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 196 Tahun 2023 yang ditandatangani oleh ST Burhanuddin. Sebelumnya, Hari Bhakti Adhyaksa yang diperingati setiap tanggal 22 Juli lebih dikenal sebagai hari besar Kejaksaan di mata masyarakat.
Dalam rangka memeriahkan Harlah Kejaksaan RI ke-80, Kejari Solsel telah menyelenggarakan berbagai kegiatan sejak tanggal 27 Agustus 2025. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Pekan Olahraga (POR), jalan santai, perlombaan tradisional, serta kegiatan sosial kemanusiaan dan keagamaan yang melibatkan partisipasi aktif dari seluruh pegawai dan masyarakat sekitar.
Kajari Fitriansyah Akbar, SH, MH, menambahkan bahwa kegiatan peringatan tidak hanya berfokus pada aspek hiburan dan kompetisi, tetapi juga menyentuh aspek sosial kemanusiaan dan spiritual. “Selain perlombaan, rangkaian kegiatan juga menyentuh aspek sosial kemanusiaan dan spirit religius seperti kegiatan donor darah dan juga tausiyah yang disampaikan oleh Ustad Adri Mahyudi, S.Pdi,” jelasnya.
Sementara itu, Kasi Pidana Umum (Pidum) Moch. Taufik Yanuarsyah, SH, MH, selaku ketua pelaksana Harlah Kejaksaan RI di Kejari Solsel, menuturkan bahwa perayaan tahun ini diselenggarakan dengan sederhana namun tetap khidmat, menekankan pada esensi peringatan dan kebersamaan. “Memperingati hari lahir kejaksaan, ada berbagai rangkaian kegiatan yang kami laksanakan, semua berjalan dalam beberapa kegiatan. Meski sederhana, itu semua berjalan dengan penuh suka cita,” ungkap Kasi Pidum.
Perbedaan mendasar antara Hari Lahir Kejaksaan RI (2 September) dan Hari Bhakti Adhyaksa (22 Juli) terletak pada konteks sejarahnya. Hari Lahir Kejaksaan RI merujuk pada momen pelantikan Jaksa Agung pertama oleh Presiden Soekarno, yang menandai awal mula eksistensi Kejaksaan. Sementara itu, Hari Bhakti Adhyaksa memperingati peristiwa pemisahan Kejaksaan dari Departemen Kehakiman, yang menegaskan kemandirian lembaga tersebut. Dengan demikian, tanggal 2 September lebih menekankan pada akar sejarah kelahiran Kejaksaan, sedangkan tanggal 22 Juli memperkuat identitas kemandirian lembaga dalam sistem hukum Indonesia.







