Padang Panjang – Peringatan satu abad Gempa Padang Panjang 28 Juni 1926 menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan warga tak boleh lengah menghadapi ancaman bencana yang bisa datang kapan saja. Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP), Rabu (13/5/2026).
FGD ini menghadirkan Plt. Kepala BPBD Kesbangpol Dian Eka Purnama sebagai narasumber. Sejumlah unsur masyarakat juga ikut hadir, mulai dari KNPI, Karang Taruna, Kelompok Siaga Bencana (KSB) dari 16 kelurahan, PMI, SAR, relawan kebencanaan, hingga insan pers.
Dian Eka menegaskan, Padang Panjang memiliki potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, ia menilai dibutuhkan kesadaran bersama untuk selalu siap siaga.
“Bencana tidak mengenal waktu. Karena itu kita harus terus membangun kesiapsiagaan agar masyarakat mampu meminimalkan risiko dan selamat saat bencana terjadi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Padang Panjang telah menuntaskan Kajian Risiko Bencana (KRB) dan kini menyelesaikan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) serta Rencana Kontijensi. Upaya itu menjadi bagian dari penguatan sistem penanggulangan bencana di daerah.
Dian Eka juga menyebut ada enam ancaman bencana yang berpotensi terjadi di Padang Panjang, yakni gempabumi, banjir, banjir bandang, tanah longsor, bencana gunung api, dan cuaca ekstrem. Menurut dia, penanganan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
Ketua PJKIP Padang Panjang Rifnaldi mengatakan, gempa 1926 tidak seharusnya dilihat semata sebagai agenda seremonial. Peristiwa itu justru menjadi pengingat bahwa Padang Panjang berada di wilayah rawan bencana karena dilintasi Patahan Semangko Segmen Sianok dan Singkarak.
Ia menambahkan, momentum satu abad gempa perlu menjadi ajang refleksi bersama untuk menilai sejauh mana kesiapan masyarakat menghadapi potensi bencana di masa depan.
“Bencana tidak pernah memberi tahu kapan datangnya. Karena itu, kewaspadaan, edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan diri,” tegasnya.
Melalui FGD tersebut, diharapkan tumbuh budaya siaga bencana yang lebih kuat serta meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai mitigasi dan langkah penyelamatan diri saat bencana terjadi.







