www.domainesia.com
News

Payakumbuh Gelar Upacara HGN dan HUT PGRI, Wawako Apresiasi Guru

48
×

Payakumbuh Gelar Upacara HGN dan HUT PGRI, Wawako Apresiasi Guru

Sebarkan artikel ini
wawako-elzadaswarman-jadi-pembina-upacara-peringatan-hut-ke-80-pgri-dan-hari-guru-nasional-di-payakumbuh
Wawako Elzadaswarman Jadi Pembina Upacara Peringatan HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional di Payakumbuh

Payakumbuh – Di tengah guyuran hujan yang tak kunjung reda sejak pagi hari, ratusan guru di Kota Payakumbuh tetap antusias mengikuti upacara peringatan Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Acara tersebut diselenggarakan di halaman Balai Kota Payakumbuh pada hari Selasa, 25 November 2025, dengan kehadiran Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman.

Momentum peringatan Hari Guru Nasional ini menjadi wadah bagi PGRI untuk menyampaikan aspirasi dan harapan terkait peningkatan kualitas pendidikan serta kesejahteraan guru di Indonesia. Dalam upacara tersebut, Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman, membacakan sambutan dari Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, yang menyoroti perjalanan panjang dan konsistensi perjuangan PGRI, serta berbagai tantangan yang dihadapi guru di era modern ini.

Unifah Rosyidi dalam sambutannya mengingatkan akan sejarah berdirinya PGRI di Solo pada tanggal 25 November 1945, hanya seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, di tengah situasi perang yang genting. Menurutnya, guru memiliki peran krusial sebagai bagian dari kekuatan bangsa, tidak hanya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi juga dalam menjaga kedaulatan negara yang baru merdeka. Wawako Elzadaswarman mengutip, “Dengan semangat persatuan, para guru berikrar bahwa guru Indonesia harus bersatu dalam satu organisasi, mendidik, dan menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Inilah jiwa PGRI sejak awal berdiri hingga sekarang.”

Elzadaswarman juga menyampaikan apresiasi atas ditetapkannya tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, sebagai bentuk pengakuan negara atas kontribusi besar yang telah diberikan oleh para guru.

Memasuki usia ke-80, PGRI melihat bahwa dunia pendidikan saat ini berada pada fase yang sangat penting. Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, kemajuan kecerdasan buatan, serta perubahan dalam metode pembelajaran menuntut para guru untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi diri. “Perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital mengharuskan kita untuk tidak berhenti belajar. Guru harus terus berinovasi dan memiliki pola pikir bertumbuh,” ujarnya. Ia menekankan bahwa guru memiliki peran sentral dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa, terutama dalam hal kemampuan literasi, pembentukan karakter, dan kemampuan berkolaborasi lintas disiplin ilmu.

Selain itu, PGRI juga menyoroti isu mengenai meningkatnya jumlah kasus guru yang berhadapan dengan hukum dalam menjalankan tugasnya. “Maraknya guru yang mengalami kekerasan dan dilaporkan ke pengadilan menunjukkan lemahnya perlindungan guru,” tegasnya. PGRI menyatakan komitmennya untuk terus memberikan pendampingan hukum dalam kasus-kasus tersebut, meskipun tidak semuanya dipublikasikan. Ia juga mendesak pemerintah dan DPR untuk memasukkan norma perlindungan guru dalam rancangan undang-undang yang baru.

PGRI juga menyampaikan harapan agar Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) yang saat ini sedang dalam proses pembahasan tidak menghilangkan Tunjangan Profesi Guru dan Dosen (TPGD), mempercepat proses sertifikasi guru, serta memastikan rekrutmen tenaga honorer melalui mekanisme ASN tanpa adanya diskriminasi antara guru negeri dan swasta. Ketua Umum PB PGRI berpesan, “RUU Sisdiknas harus memuat secara eksplisit substansi penting mengenai kesejahteraan, kualitas, dan perlindungan profesi guru.”

Unifah Rosyidi juga menyampaikan harapan besar PGRI kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui program Asta Cita yang memprioritaskan peningkatan kualitas pendidikan. “Pendidikan yang berkualitas akan terwujud jika guru mendapat perhatian serius dalam hal kesejahteraan, kompetensi, dan perlindungan hukum,” katanya.

PGRI mengajak seluruh organisasi di berbagai tingkatan untuk memperkuat solidaritas internal, meningkatkan pelayanan kepada anggota, serta menjaga kemitraan strategis dengan pemerintah pusat dan daerah. Unifah menutup sambutannya dengan mengatakan, “PGRI harus menjadi kekuatan moral intelektual yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan.”

Setelah upacara selesai, Wawako Elzadaswarman menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh guru di Payakumbuh atas dedikasi dan pengabdian mereka di tengah berbagai tantangan zaman. “Guru adalah penjaga peradaban. Kota Payakumbuh berdiri karena para pendidiknya menjaga kualitas generasi kita,” ujarnya. Ia juga menegaskan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Payakumbuh terhadap agenda peningkatan kompetensi guru dan sinergi dengan PGRI. Elzadaswarman mengakhiri sambutannya dengan seruan, “Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yes! Siapa Kita? Indonesia!”