Padang – Rektor Universitas Andalas Efa Yonnedi menegaskan lulusan perguruan tinggi harus siap menghadapi perubahan cepat di era kecerdasan buatan. Menurut dia, AI bukan ancaman, melainkan peluang besar bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Pesan itu disampaikan Efa dalam Wisuda II Tahun 2026 Universitas Andalas yang digelar di Auditorium UNAND, Sabtu (9/5/2026). Di hadapan para wisudawan, ia mengingatkan bahwa dunia kerja kini bergerak jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Sejumlah profesi lama mulai tergeser oleh perkembangan teknologi. Namun di saat yang sama, berbagai jenis pekerjaan baru juga bermunculan.
“Saya masih percaya bahwa teknologi itu akan menciptakan banyak peluang, asalkan kita mau beradaptasi cepat,” ujar Efa.
Ia menjelaskan, kemajuan AI telah memangkas waktu kerja di banyak sektor. Pekerjaan yang semula memakan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik.
“Kita hidup di era VUCA, dunia yang penuh ketidakpastian, perubahan cepat, dan kompleksitas. Kecerdasan buatan kini mampu mengerjakan dalam hitungan detik apa yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari,” katanya.
Karena itu, Efa meminta para lulusan menjadi generasi future ready atau siap menghadapi masa depan. Ia menegaskan, future ready bukan berarti mengetahui semua jawaban, melainkan terus belajar, mampu beradaptasi, dan menjaga integritas di tengah perubahan.
“Era yang mereka hadapi penuh ketidakpastian dan perubahan cepat. Untuk memenangkan persaingan dibutuhkan lulusan yang siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
Efa juga menekankan pentingnya long life learning atau belajar sepanjang hayat agar generasi muda tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, ia meminta lulusan membangun jejaring seluas mungkin untuk membuka peluang studi maupun karier.
“Mereka harus terus belajar dan membangun networking dengan siapa saja, termasuk untuk peluang studi maupun karier,” katanya.
UNAND sendiri mulai menyesuaikan kurikulum dengan memasukkan materi AI, data analitik, dan kewirausahaan ke berbagai program studi. Efa menyebut setiap prodi perlu memahami penerapan AI dan data analitik di bidang masing-masing.
“Jadi bukan hanya belajar teori, tetapi memahami bagaimana teknologi digunakan di dunia industri,” ujarnya.
Ia menambahkan, kreativitas, kemampuan adaptasi, dan jiwa kewirausahaan juga menjadi modal penting bagi lulusan perguruan tinggi ke depan. Menurut dia, kampus tidak cukup hanya mencetak pencari kerja.
“Kampus tidak boleh hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga generasi yang mampu menciptakan peluang baru,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Efa juga memaparkan capaian UNAND. Kampus tersebut kini menyandang akreditasi institusi “Unggul” dari BAN-PT hingga 2028, dengan 57 persen program studi berstatus akreditasi Unggul. Di tingkat internasional, UNAND kembali masuk pemeringkatan dunia Times Higher Education (THE) 2025, berada di posisi ke-8 nasional, serta peringkat 201-250 dunia dalam Interdisciplinary Science Ranking THE.
UNAND turut mempercepat transformasi digital melalui penerapan tanda tangan elektronik pada ijazah, platform MyUNAND, sistem SAKU Digital, hingga layanan administrasi terpadu satu pintu. Sepanjang 2025, kampus itu telah meluluskan 8.180 wisudawan dari berbagai jenjang pendidikan.
Saat ini, UNAND memiliki lebih dari 32 ribu mahasiswa aktif dan 156 program studi. Efa juga memberi apresiasi kepada Rafael Fadly Harianja, mahasiswa disabilitas rungu dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian, yang berhasil menyelesaikan studinya.
“Keberhasilan Rafael menunjukkan bahwa kesempatan akademik harus terbuka bagi seluruh anak bangsa,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Efa mengingatkan wisudawan agar terus menjaga rasa ingin tahu, kemampuan kolaborasi, dan nama baik dalam perjalanan karier mereka.
“Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal dari perjuangan panjang,” katanya.







