Solok – Banjir kembali melanda Nagari Saniang Baka, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok pada hari Jumat, 2 Januari 2026, mengakibatkan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat setempat. Bencana ini, yang dipicu oleh curah hujan tinggi, menyebabkan ratusan rumah terendam dan akses jalan utama terputus, memperparah kondisi yang sudah sulit akibat banjir sebelumnya.
Akibatnya, aktivitas warga terhambat karena akses jalan yang menghubungkan Nagari Muaro Pingai dan sekitarnya tidak dapat dilalui. Ketinggian air yang meluap dari sungai mencapai hingga selutut orang dewasa, merendam jalan dan permukiman, sehingga menyulitkan mobilitas sehari-hari.
Menurut laporan yang diterima, air mulai memasuki rumah-rumah warga saat umat Muslim sedang melaksanakan ibadah Salat Jumat. Situasi ini menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat, yang kemudian berusaha menyelamatkan diri dari terjangan banjir.
Yefrimon, seorang warga Saniang Baka, menggambarkan situasi mencekam saat banjir datang. “Banjir tadi datang ketika Salat Jumat berlangsung. Air naik dengan cepat sehingga warga tak sempat menyelamatkan harta benda,” tuturnya.
Sebagai respons terhadap situasi darurat ini, pemerintah nagari, aparat kecamatan, tim relawan, dan berbagai elemen terkait lainnya segera turun tangan memberikan bantuan. Prioritas utama adalah evakuasi kelompok rentan, termasuk lansia, anak-anak, dan warga yang rumahnya mengalami kerusakan parah akibat banjir.
Mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan, pihak berwenang mengimbau kepada seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menjauhi area di sekitar aliran sungai sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Perlu menjadi perhatian bahwa Nagari Saniang Baka merupakan salah satu wilayah yang paling terdampak oleh banjir besar yang terjadi pada akhir November 2025. Bencana tersebut menyebabkan belasan rumah hanyut dan ratusan lainnya terendam air. Sejak saat itu, wilayah ini telah berulang kali mengalami banjir susulan, menunjukkan kerentanan daerah ini terhadap bencana hidrometeorologi.







