www.domainesia.com
News

Budi Syukur Raih Anugerah PWI: Dedikasi Olahraga Diganjar Penghargaan Nasional

66
×

Budi Syukur Raih Anugerah PWI: Dedikasi Olahraga Diganjar Penghargaan Nasional

Sebarkan artikel ini
budi-syukur-dt -bandaro-jambak:-pwi-award,-kado-istimewa-di-usia-64-tahun
Budi Syukur Dt  Bandaro Jambak: PWI Award, Kado Istimewa di Usia 64 Tahun

Serang – Budi Syukur, SH, Datuak Bandaro Jambak, tokoh yang dikenal luas atas kontribusinya dalam dunia olahraga, akan menerima Anugerah Tokoh Olahraga Nasional dari PWI Pusat. Penghargaan ini akan diserahkan pada rangkaian acara Hari Pers Nasional (HPN) 2026, bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-64, sehari setelah hari kelahirannya pada Sabtu, 8 Februari 2026.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi panjang Budi Syukur dalam memajukan dunia olahraga, khususnya di Sumatera Barat. Rencananya, Presiden RI Prabowo Subianto akan menyerahkan langsung penghargaan prestisius ini. Budi Syukur dikenal sebagai sosok yang tulus, bekerja tanpa mencari publisitas, dan memberi tanpa mengharapkan imbalan. Di mata para atlet, pelatih, pengurus, dan masyarakat olahraga, namanya menjadi simbol ketenangan, konsistensi, dan keteladanan.

Budi Syukur dilahirkan di Padang pada 8 Februari 1962, tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai disiplin, kebersamaan, dan komitmen moral. Nilai-nilai ini tercermin dalam gaya kepemimpinannya yang tenang, sistematis, dan berorientasi pada tujuan jangka panjang, baik dalam dunia bisnis maupun dalam pembinaan olahraga.

Pendidikan formal Budi Syukur dimulai dari SDN 41 Padang, SMPN 3 Padang, hingga SMAN 1 Padang. Ia kemudian meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Andalas pada tahun 1989. Semangat belajarnya terus berlanjut hingga ia meraih gelar Magister Business Administration (MBA) dari Unimay University Malaysia pada tahun 2025, dan melanjutkan studi Magister Manajemen di Universitas Sumatera Barat.

Selain aktif di dunia olahraga, Budi Syukur juga dikenal sebagai seorang profesional yang sukses. Ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Bersama Sejahtera Mandiri, serta aktif di berbagai organisasi sosial, ekonomi, dan olahraga. Ia dipercaya untuk menduduki posisi strategis, seperti Ketua Umum PKPS Sumbar, Ketua Umum ISMI Sumbar, Ketua DPD Organda Sumbar, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Sumbar, Ketua Dewan Penyantun KONI Sumbar, Dewan Kehormatan PMI Sumbar, Dewan Kehormatan Peradi Sumbar, serta Panghulu Suku Jambak Nagari Air Haji, Pesisir Selatan, dengan gelar Datuak Bandaro Jambak.

Kontribusi Budi Syukur dalam dunia olahraga sangat signifikan, terutama dalam membangkitkan kembali gairah atletik di Sumatera Barat. Ia dipercaya untuk memimpin Pengprov PASI Sumbar selama tiga periode, sebuah pencapaian yang mencerminkan kepercayaan besar dari para pengurus kabupaten/kota terhadap kepemimpinannya. Sejak bergabung dengan PASI pada tahun 2010, ia selalu terpilih secara aklamasi, bahkan ketika tidak sedang mencari jabatan. Ia membangun organisasi dengan disiplin, konsistensi, dan kesabaran.

Berkat kepemimpinannya, atletik Sumbar yang sebelumnya kurang diperhitungkan, kini menjadi kekuatan nasional yang disegani. Banyak talenta muda bermunculan, sistem pembinaan tertata dengan baik, dan para pelatih bekerja dengan rasa aman. Puncaknya terjadi pada Asian Games 2018, ketika 11 atlet Sumbar berhasil masuk dalam pemusatan latihan nasional, sebuah sejarah tersendiri bagi atletik Sumbar. Regenerasi atlet juga terus berjalan, yang dibuktikan dengan prestasi atlet-atlet muda Sumbar di SEA Youth Athletics Championship. Atas dedikasinya, Budi Syukur ditunjuk sebagai Anggota Komisi Pemberdayaan Daerah PB PASI, dengan tugas membina wilayah Sumatera, dan dipercaya selama dua periode kepengurusan.

Sebelum berkecimpung di dunia atletik, Budi Syukur telah mengabdikan diri di Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Sumbar. Ia selalu hadir di pinggir kolam renang, mendengarkan keluhan para atlet, memahami beban para pelatih, dan memberikan dukungan saat dibutuhkan. Pada tahun 2008, SIWO PWI Sumbar menganugerahkan penghargaan Pembina Olahraga Terbaik kepadanya. Wartawan senior Firdaus Abie kala itu mengatakan, “Beliau bukan hanya pengurus. Ia adalah pelepas dahaga di tengah kehausan. Tempat pulang atlet ketika kehilangan arah.” Berkat kontribusinya, renang Sumbar pun bangkit, melahirkan prestasi di PON dan nama-nama seperti Harizal dan Yosita Hapsari, yang mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Kepercayaan besar kembali diberikan kepada Budi Syukur ketika ia ditunjuk sebagai Ketua Kontingen Sumbar pada PON XIX/2016 di Jawa Barat. Di bawah kepemimpinannya, Sumbar berhasil meraih 14 medali emas, 10 medali perak, dan 20 medali perunggu. Hasil ini menempatkan Sumbar di peringkat 11 nasional, melampaui capaian pada PON 2012 di Riau. Banyak pelatih dan ofisial menilai bahwa ketenangan serta kehadiran moral Budi Syukur menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas psikologis kontingen.

Bagi Budi Syukur, olahraga bukan hanya tentang meraih medali, tetapi juga tentang proses membangun karakter. Filosofinya sederhana namun mendalam. “Saya menikmati proses tanpa resah. Semangat mereka seperti darah segar yang terus mengaliri tubuh saya,” ujarnya.

Warisan terbesarnya bukanlah jabatan yang pernah diembannya, melainkan sistem pembinaan yang berkelanjutan, hubungan emosional yang kuat antara atlet, pelatih, dan pengurus, organisasi yang tetap berjalan meskipun ia tidak lagi memimpin, serta generasi atlet dan pelatih yang tumbuh dalam disiplin. Budi Syukur adalah salah satu tokoh yang tetap dikenang setelah masa jabatannya berakhir. Ia bukan hanya seorang tokoh olahraga, melainkan juga seorang pembina, pemimpin, dan pelayan masyarakat. Jejaknya membekas dalam setiap langkah atlet Sumatera Barat, di lintasan, di kolam renang, dan di podium.