Padang – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mempercepat reaktivasi jalur kereta api di Sumatra Barat sebagai bagian dari proyek strategis Trans Sumatra Railways. Proyek ini menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menghubungkan jaringan rel dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung demi menekan biaya logistik nasional.
Direktur Utama PT KAI Bob Rasyidin mengatakan, Sumatra Barat akan menjadi tulang punggung jalur barat atau West Trans Sumatra Railway. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah mengarahkan agar konektivitas rel antarkota di Pulau Sumatra dibangun melalui jalur timur dan barat, dengan rute barat wajib melewati Kota Padang.
“Sumatra Barat menjadi tulang punggung jalur barat,” kata Bob.
Menurut Bob, reaktivasi jalur akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama meliputi lintasan Kayu Tanam, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Limbanang.
Sementara tahap kedua mencakup rute Padang Panjang menuju Singkarak, Kota Solok, Muaro Kalaban, hingga Sawahlunto.
Anggota DPR RI asal Sumatra Barat, Andre Rosiade, menilai pengoperasian kembali kereta api menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurai kemacetan kronis di jalur darat. Ia mengatakan kapasitas jalan raya sudah tidak lagi sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan.
“Kalau kondisi jalan dari Padang ke Bukittinggi dan Payakumbuh, nyaris tidak berubah selama puluhan tahun. Akibatnya, kemacetan jadi persoalan yang terus dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi minat penumpang, PT KAI mencatat tren penggunaan kereta api di Sumatra Barat terus meningkat. Jumlah penumpang naik 16 persen setiap tahun.
Pada 2025, perusahaan memperkirakan jumlah pengguna kereta api di wilayah itu mencapai 1,9 juta orang.
Saat ini, PT KAI masih menyusun Detailed Engineering Design (DED) yang ditargetkan rampung pada September atau Oktober tahun ini. Setelah itu, sosialisasi dan sterilisasi lahan dijadwalkan mulai pada awal 2027.
KAI menargetkan operasional penuh proyek tersebut dapat berjalan sebelum 2029. Namun, tantangan utama masih terletak pada pembersihan lahan di atas aset perusahaan seluas 11.000 hektar yang saat ini ditempati bangunan liar.
Meski demikian, KAI optimistis pengerjaan bisa dipercepat karena status kepemilikan lahan sudah berada di bawah kendali perusahaan.
Reaktivasi jalur kereta api ini tidak hanya menyasar mobilitas penumpang, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat sektor logistik dan pariwisata. Di sektor logistik, transportasi massal itu akan mendukung pengangkutan jutaan ton batu bara dari tambang PTBA di Sawahlunto mulai 2027.
Sementara di sektor pariwisata, KAI menyiapkan layanan kelas dunia, termasuk gerbong panoramik dan Nusantara Explorer. Layanan tersebut disiapkan untuk mengakomodasi arus wisatawan yang diperkirakan mencapai 20 juta orang per tahun di Sumatra Barat.







