Padang – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Padang menggelar acara buka bersama (bukber) di halaman madrasah pada hari Jumat, 13 Maret 2026, sebagai bagian dari penutupan rangkaian kegiatan pesantren Ramadhan 1447 H. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga diisi dengan penyerahan santunan kepada 40 siswa yatim, piatu, dan kurang mampu, yang dananya berasal dari infak yang dikumpulkan oleh para siswa.
Kepala MAN 1 Padang, Afrizal SAg, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif mandiri madrasah. Afrizal mengatakan, kegiatan buka bersama ini menjadi simbol kebersamaan. “Penutupan pesantren Ramadhan yang berlangsung selama kurang lebih seminggu itu, ditutup dengan buka bersama sebagai bentuk kebersamaan,” ujarnya.
Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat sekitar, MAN 1 Padang juga berencana mengadakan kegiatan “MAN 1 Bermakna” pada tanggal 17 Maret mendatang. Dalam kegiatan tersebut, akan dibagikan 40 hingga 50 paket sembako kepada warga di sekitar madrasah. Selain itu, zakat fitrah yang berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) juga akan diserahkan kepada warga kurang mampu dan para janda. Afrizal menambahkan, kegiatan ini terinspirasi dari kegiatan serupa yang dilakukan oleh Kemenag Padang. “Hal ini terinspirasi dengan kegiatan Kemenag Padang Bermakna kepada warga terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Kota Padang,” imbuh Afrizal.
Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam (Pais) Kemenag Padang, Farhan Furqoni, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya pengamalan ilmu yang telah diperoleh selama pesantren Ramadhan. Farhan Furqoni mengatakan, salah satu contohnya adalah tata cara penyelenggaraan jenazah. “Maka aplikasikan penyelenggaraan jenazah itu nanti di lingkungan kita masing – masing, karena itu bagian dari pengabdian kita kepada masyarakat setelah kita mempelajari secara teori di sekolah sebelumnya,” kata Farhan.
Selain itu, Farhan juga mengingatkan para siswa untuk terus mengamalkan hafalan Al-Quran yang telah diperoleh selama di madrasah. Menurutnya, hafalan tersebut perlu diulang-ulang secara berkala agar tidak mudah terlupa.
Ustadz Muhammad Yunus, yang memberikan siraman rohani dalam acara tersebut, menyoroti pentingnya nilai-nilai agama dalam keluarga. Ia menyampaikan sebuah kisah yang menggambarkan bahwa kesuksesan ekonomi tidak menjamin tertanamnya nilai-nilai agama dalam sebuah keluarga.
Ustadz Yunus menceritakan tentang sebuah keluarga yang sukses secara ekonomi, namun kurang dalam penerapan nilai-nilai agama. Pasangan muda tersebut dikaruniai anak-anak yang sukses, yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan SMK. Namun, sang ayah meninggal dunia secara mendadak di ruang kerjanya. Istrinya sangat terkejut dan tidak percaya dengan kepergian suaminya. Seorang ustadz kemudian diminta untuk menenangkan dan meyakinkan sang istri agar merelakan kepergian suaminya.
Ketika kabar duka tersebut disampaikan kepada anak sulungnya melalui telepon, panggilannya tidak diangkat. Setelah ditelusuri, suara telepon genggamnya terdengar dari lantai dua rumah. Mereka terkejut menemukan anak sulung tersebut sedang berduaan dengan lawan jenis tanpa busana. Anak kedua kemudian diminta untuk menjadi imam sholat jenazah ayahnya, namun ia mengaku tidak bisa dan bahkan tidak pernah melaksanakan sholat lima waktu. Ustadz Yunus menyimpulkan, “Jadi, sukses secara ekonomi tak menjamin tertanamnya nilai agama di dalam keluarga.”







