Padang – Putusnya Irigasi Gunung Nago di Kecamatan Pauh, Kota Padang, bukan hanya memukul petani yang tak lagi bisa menggarap sawah. Kerusakan akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir 2025 itu juga membuat usaha peternak ikan air deras di sepanjang aliran Irigasi Gunung Nago Kanan ikut berhenti.
Dampaknya kini dirasakan ratusan kepala keluarga yang kehilangan sumber penghasilan. Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Gunung Nago Kanan, Suyono, membenarkan kondisi tersebut pada Jumat (15/5/2026).
Menurut Suyono, banjir bandang merusak jalan, jembatan, dan berbagai infrastruktur pertanian, termasuk saluran irigasi sawah. Kerusakan itu membuat tekanan ekonomi warga semakin berat.
“Belum lagi pelaku usaha yang bergerak sebagai peternak ikan air deras, tentu berjumlah ratusan orang pula,” ujar Suyono.
Ia menyebut, jumlah warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian di aliran Gunung Nago Kanan mencapai sekitar 500 kepala keluarga. Jika dihitung bersama anggota keluarganya, jumlahnya jauh lebih besar.
Para pelaku usaha itu tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Lambuang Bukik di Kecamatan Pauh, Kampuang Pinang, Simpang Kuranji, Koronggadang, dan Kalumbuk di Kecamatan Kuranji, hingga Kecamatan Nanggalo.
Namun hingga kini, kolam dan keramba mereka tak lagi beroperasi. Situasi tersebut membuat roda ekonomi warga terhenti dan berpotensi menambah jumlah penduduk miskin di Kota Padang.
Di sisi lain, petani yang memilih beralih ke palawija juga menghadapi beban baru. Menurut Suyono, modal tanam palawija lebih besar dibandingkan padi. Selain itu, tanaman palawija menuntut perawatan lebih intensif, sementara hasilnya dinilai belum sebanding dengan komoditas pangan sawah.
Suyono juga mengatakan belum ada perhatian dari Pemerintah Kota Padang terhadap para petani terdampak banjir bandang. Bantuan seperti pupuk, bibit, maupun kebutuhan lain untuk beralih ke palawija pun belum mereka terima.
Ia menilai kondisi warga kian berat karena tahun ajaran baru akan segera dimulai. Beban ekonomi masyarakat, khususnya petani yang lahannya belum bisa digarap, diperkirakan semakin menekan.
Karena itu, Suyono mendesak pemerintah bergerak cepat mencari solusi agar sawah kembali bisa ditanami. Salah satu solusi yang dia usulkan adalah pemasangan pipa dari jembatan Gunung Nago hingga gedung SD Lambuang Bukik dengan penyangga tiang, sambil menunggu pembangunan irigasi permanen.







