Padang – Lomba Lintas Alam – Telusur Jejak Perjuangan Harimau Kuranji (LLA-TJPHK) akan kembali digelar pada 22 hingga 25 Agustus 2025, menandai tahun keempat penyelenggaraan acara tersebut. Dukungan untuk kegiatan ini diperoleh melalui pokok-pokok pikiran (Pokir) dari Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rajo Budiman.
Perkumpulan Kelompok Pecinta Alam Bina Isi Alam Semesta (KPA-BIAS) Padang didapuk sebagai pelaksana LLA-TJPHK, dengan acara pembukaan yang direncanakan akan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting daerah, termasuk Gubernur Sumatera Barat, Danrem 032 Wirabraja, Kapolda Sumatera Barat, serta Bupati Padangpariaman.
Ketua KPA Bias, Khalid Saifullah Rj Basa, menjelaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah untuk merevitalisasi ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah perjuangan Harimau Kuranji. Khalid Saifullah Rj Basa menyampaikan pada hari Jumat (22/8/2025), “Gelaran Lomba Lintas Alam ini tidak terlepas untuk mengingatkan kembali sejarah perjuangan Harimau Kuranji, yang basis perjuangannya di kawasan Kuranji yang lingkar up perjuangan level nasional.”
Selain menjadi platform kompetisi, Lomba Lintas Alam ini juga menjadi momentum penting dalam memperingati HUT ke-80. Partisipasi dalam lomba ini terbuka bagi berbagai kelompok pecinta alam di seluruh Sumatera Barat, yang terbagi ke dalam dua kategori utama: kategori umum (putra dan putri) serta kategori pelajar SMA/SMK sederajat (putra dan putri). Total hadiah yang diperebutkan dalam ajang ini mencapai Rp 103 juta.
Hingga saat ini, panitia mencatat sebanyak 58 tim telah melakukan pendaftaran, baik melalui sistem daring (online) maupun luring (offline). Proses pendaftaran secara resmi ditutup pada pukul 12.00 WIB, sementara registrasi terakhir bagi para peserta dilaksanakan pada hari Jumat hingga pukul 15.00 WIB.
Perlu dicatat bahwa rute serta lokasi titik awal (start) dan titik akhir (finish) pada LLA-TJPHK tahun ini mengalami perbedaan dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Titik start akan berlokasi di SMPN 3 Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padangpariaman, sementara garis finish akan berada di Kantor KAN Pauh IX Kuranji, Kota Padang. Jalur yang akan dilalui oleh para peserta mencakup wilayah Karang Batang Anai – Koto Tangah, dengan menyisir sisi-sisi Bukit Barisan, hingga akhirnya mencapai garis akhir di Kantor KAN Pauh IX Kuranji.
Ajang lomba ini menjadi wadah yang konstruktif untuk menyalurkan minat serta bakat generasi muda dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan pecinta alam, termasuk hiking dan pendakian gunung. Lebih dari sekadar aktivitas fisik, lomba ini juga memiliki keterkaitan yang erat dengan sejarah perjuangan di Sumatera Barat, terutama melalui rute perjalanan yang menggambarkan jejak perjuangan para pejuang Harimau Kuranji di bawah komando Ahmad Husein, yang merupakan pendiri Devisi Banteng.
Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Evi Yandri Rj Budiman, S.I.P., menyoroti bahwa lomba ini mengusung tema yang secara khusus dirancang untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, bela negara, patriotisme, serta kecintaan dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan, sosial, dan budaya. Rj Budiman menyampaikan, “Kemudian bertujuan meningkatkan rasa cinta tanah air terhadap generasi muda dengan mengenang jejak perjuangan Harimau Kuranji. Menumbuhkan, menanamkan nilai nilai perjuangan Nasionalisme dan semangat Patriotisme terhadap Generasi Muda.”
Rj Budiman menambahkan bahwa penyelenggaraan lomba ini juga bertujuan untuk mempererat persatuan dan kesatuan serta memperkuat tali persaudaraan antar generasi muda. Latar belakang penyelenggaraan lomba ini didasari oleh keinginan untuk memastikan bahwa generasi muda, khususnya di Kota Padang dan Sumatera Barat pada umumnya, tidak melupakan sejarah perjuangan rakyat Sumatera Barat, terutama masyarakat Kota Padang di kawasan Pauh IX Kuranji dan sekitarnya.
Nagari Pauh IX Kuranji memiliki signifikansi historis dan strategis sebagai basis pergerakan para pejuang kemerdekaan, terutama karena lokasinya yang sangat mendukung untuk pertahanan dan penyerangan pasukan Indonesia ke kantong-kantong pertahanan Sekutu dan Belanda.
Keberanian serta kemahiran para pejuang kemerdekaan di Kuranji menjadi fondasi lahirnya Harimau Kuranji, sebuah kekuatan yang sangat ditakuti oleh Sekutu. Strategi perang gerilya yang diterapkan oleh Ahmad Husein bersama rekan-rekannya seringkali merepotkan tentara Belanda. Bagi Sekutu dan Belanda, Harimau Kuranji menjadi penghalang utama dan momok yang menakutkan.






