Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tengah mempersiapkan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 dengan fokus utama pada peningkatan fasilitas dan layanan yang lebih ramah perempuan. Langkah ini diambil seiring dengan proyeksi bahwa jemaah haji perempuan akan mendominasi pelaksanaan ibadah haji tahun tersebut, diperkirakan melebihi 50 persen dari total jemaah.
Dalam kelas Diklat PPIH Arab Saudi 2026 yang diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Selasa (20/1/2026), Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024, Alissa Wahid, mengemukakan sejumlah tantangan spesifik yang dihadapi jemaah perempuan selama pelaksanaan ibadah haji. Salah satu tantangan utama yang disoroti adalah terkait dengan pengalaman hidup khusus perempuan, termasuk siklus reproduksi. “Salah satunya adalah siklus reproduksi. Perempuan ada datang bulan,” ujarnya.
Alissa Wahid juga menyoroti perbedaan kebutuhan perlengkapan ibadah haji antara jemaah perempuan dan laki-laki. Ia mencontohkan perbedaan jumlah lapisan pakaian ihram yang dikenakan. “Laki-laki dua lembar, perempuan berapa lapis? Hijab dan dalaman hijab, atasan dan dalaman, dalaman celana, kaus kaki, banyak,” jelasnya.
Selain itu, Alissa juga menyoroti masih kurangnya fasilitas haji yang ramah perempuan, termasuk jumlah pendamping perempuan dan ketersediaan kamar mandi yang memadai. Meskipun demikian, ia mengapresiasi peningkatan jumlah petugas haji perempuan. Berdasarkan data dari Wamenhaj, persentase petugas haji perempuan pada tahun 2026 mencapai 33,2 persen, melampaui target yang ditetapkan sebesar 30 persen. “Kita sangat senang jumlah petugas haji perempuan terus ditambah, karena kebutuhannya memang real, terutama pembimbing ibadah perempuan. Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan fasilitas yang dibutuhkan perempuan,” kata Alissa.
Alissa Wahid juga berbagi pengalamannya sebagai petugas haji, di mana ia dan timnya membuat kebijakan terkait penggunaan sebagian kamar mandi laki-laki untuk jemaah perempuan. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap perbedaan proses penggunaan kamar mandi antara jemaah haji perempuan dan laki-laki. “Karena meski jumlah kamar mandinya itu sama, sementara proses jemaah haji perempuan di kamar mandi berbeda dengan laki-laki. Mau-nggak mau, kita harus membuat kebijakan-kebijakan spontan, on the spot di lapangan. Yang kayak gitu-gitu perlu direspons secara sistematis,” tuturnya.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Direktur Bina Petugas Haji Reguler Kemenhaj, Chandra Sulistio Reksoprodjo, menegaskan komitmen Kemenhaj untuk menyelenggarakan ibadah haji 2026 yang lebih ramah perempuan. Ia menekankan pentingnya pemahaman petugas haji terhadap kebutuhan khusus jemaah perempuan. “Di sana itu ramai, orang kita badannya kecil, paling tidak, misalnya saat beribadah, kita (petugas haji) membuat lingkaran untuk melindungi jemaah perempuan. Petugas haji harus sudah paham hal-hal seperti itu,” ujarnya.
Chandra Sulistio Reksoprodjo menambahkan bahwa jemaah perempuan Indonesia seringkali merasa enggan untuk bertanya dalam situasi baru, bahkan untuk hal sesederhana menanyakan lokasi kamar mandi. Dalam konteks ini, peran petugas haji menjadi sangat penting dalam memberikan bantuan dan informasi. “Kita (petugas haji) sudah harus membaca, langsung punya feeling, bilang, ‘Maaf ibu, kalau membutuhkan kamar kecil, ada di sebelah sana. Atau, ‘Ibu, kalau air minum kita sudah siapkan di sebelah sini,” pungkasnya. Dengan demikian, Kemenhaj berupaya memastikan kenyamanan dan kelancaran ibadah haji bagi seluruh jemaah, khususnya jemaah perempuan.







